Supernova yang “Mustahil”

Selama beberapa dekade, para astronom beranggapan bahwa massa sebuah bintang kerdil putih tidak mungkin melewati 1,44 kali massa Matahari. Batasan ini pertama kali dihitung pada 1930-an oleh Subramayan Chandrasekhar, salah seorang ahli astronomi terbesar di abad ke-20.

Menurut teori, apabila sebuah bintang kerdil putih dalam sistem bintang ganda menerima massa dari bintang pasangannya hingga massanya melebihi batasan 1,44 kali massa matahari (yang dikenal sebagai batas Chandrasekhar), maka bintang kerdil putih itu akan meledak menjadi supernova Tipe Ia. Hingga kini, tidak ada bintang kerdil putih yang yang teramati yang memiliki massa diatas batas Chandrasekhar, sementara energi dari ledakan Tipe Ia seluruhnya juga konsisten dengan limit tersebut.

Namun dalam jurnal Nature terbitan 21 September lalu, suatu tim internasional yang dikenal sebagai Supernova Legacy Survey (SNLS) telah melaporkan hasil pengamatan terhadap sebuah supernova Tipe Ia yang disebut SNLS-03D3bb yang kemungkinan berasal dari bintang kerdil putih dengan massa yang melampaui batas Chandrasekhar (“super-Chandrasekhar”). Supernova tersebut memiliki luminositas lebih dari 2 kali luminositas dari Tipe Ia normal, dan karena itu semestinya berasal dari sebuah bintang dengan massa lebih dari 2 kali massa matahari. Kecepatan ekspansi SNLS-03D3bb juga termasuk salah satu yang paling lambat yang pernah diamati dari Tipe Ia, yang menunjukkan bahwa ia berasal dari bintang yang cukup masif.

Menurut salah seorang anggota tim SNLS, Mark Sullivan dari University of Toronto, supernova ini tidak diragukan lagi merupakan Tipe Ia, berdasarkan tingginya spektrum signal-to-noise yang didapat saat supernova ini berada di sekitar puncak kecerlangannya. Spektrum ini memiliki semua karakteristik kimiawi yang merupakan ciri dari Tipe Ia, diantaranya silicon-II dan sulfur-II, yang tidak terdapat pada spektrum supernova dari tipe lain.

Terdapat dua kemungkinan penjelasan dari kondisi ini. Pertama, bintang kerdil putih yang memiliki massa sekitar dua kali massa matahari, namun berputar sedemikian cepat sehingga mengakibatkan keruntuhan gaya sentrifugal yang mendukungnya. Kemungkinan kedua, supernova itu berasal dari dua bintang kerdil putih yang bergabung sehingga kombinasi massa keduanya melampaui batas Chandrasekhar dan kemudian memicu ledakan supernova.

Walaupun sangat sedikit astronom yang meragukan observasi dan identifikasi dari supernova tersebut sebagai Tipe Ia yang tidak biasa, namun banyak yang tidak serta-merta setuju mengenai keberadaan bintang kerdil putih “super-Chandrasekhar”. Salah satu alasannya bahwa batas Chandrasekhar adalah paradigma yang sudah sangat mapan dan diterima secara luas di lingkungan astronomi, dan karenanya hanya bisa dipatahkan apabila didukung oleh bukti yang sangat kuat (skytonight.com)


About this entry