Topan Ganjil di Saturnus

061109_freak_storm_01.jpgWahana antariksa milik NASA, Cassini, telah memotret badai berbentuk ganjil seukuran dua-pertiga diameter Bumi di permukaan Saturnus. Badai topan itu diketahui memiliki pusat badai (lihat gambar). Fitur tersebut tidak dimiliki oleh topan permanen yang pernah diamati sebelumnya, baik di Saturnus mapun planet lain semacam Jupiter.

Badai topan selebar 8000 kilometer itu bergerak dengan kecepatan 350 mil per jam di kutub selatan Saturnus. Menurut Andrew Ingersoll, salah seorang anggota tim pencitraan (imaging) Cassini, objek tersebut “Kelihatan seperti badai, namun tidak berlaku sebagaimana halnya badai.” “Apapun itu, kita akan berfokus pada bagian pusat dari badai itu dan mencari penyebab mengapa ia dapat terbentuk,” lanjutnya.

Bagian pusat badai topan itu bersih dari awan seperti halnya badai topan di Bumi, sementara awan di bagian tepinya juga memiliki karakteristik yang serupa dengan awan yang melingkupi badai yang berlangsung di Bumi. Para peneliti masih belum mengetahui apakah awan tersebut berasal dari udara lembab yang membubung seperti normalnya badai di Bumi. Tetapi bagian pusat badai dan bagian di sekelilingnya beserta lengan spiral, semuanya serupa dengan yang seharusnya ada pada badai topan.

Topan tersebut diketahui berputar di sekitar kutub selatan Saturnus. Kutub selatan Saturnus sendiri kemungkinan berada di dalam pusat badai, dan sistem badai tersebut nampaknya bersifat permanen. Untuk diketahui, badai permanen di permukaan planet gas lain–sepeti bintik merah pada Jupiter maupun badai yang lebih kecil, baik di permukaan Saturnus maupun Jupiter–kesemuanya tidak memiliki pusat badai.

Badai ini juga memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk menjenguk lebih dalam ke permukaan Saturnus. Hal ini, “Dapat memberikan pandangan paling dalam dari Saturnus melalui rentang panjang gelombang yang beragam, dan mengungkap keberadaan sederet awan gelap misterius di dasar pusat badai,” demikian diungkapkan oleh Kevin Baines, anggota tim visual and infrared mapping spectrometer Cassini.

Pengamatan sebelumnya menunjukkan bahwa kutub selatan Saturnus ternyata lebih hangat sekitar 4 derajat Fahrenheit daripada bagian lainnya dari planet tersebut. “Angin berkurang sesuai dengan ketinggian, sementara atmosfer makin menipis, tertekan dan memanas diatas kutub selatan (Saturnus),” demikian penjelasan Richard Achtenberg, anggota tim compostie infrared spectrometer Cassini.

Gambar video pendek dari topan tersebut dapat dilihat di website resmi proyek Cassini-Huygens. (saturn.jpl.nasa.gov)


About this entry