Citra Pertama dari Hinode
Wahana penelitian matahari yang dioperasikan lembaga ruang angkasa Jepang, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Hinode (”matahari terbit”), telah mengirimkan citra pertamanya yang menunjukkan detail dari daerah aktif pada korona matahari. Demikian dilansir oleh NASA pada 23 Desember lalu.
Teleskop sinar-X pada Hinode telah menangkap citra atmosfir terluar matahari yang dikenal sebagai korona. Korona adalah tempat dimana aktifitas eksplosif di permukaan matahari terjadi–salah satunya adalah apa yang disebut sebagai coronal mass ejections. Diperkuat oleh medan magnet matahari, aktivitas ini menghasilkan efek yang berpengaruh di antariksa antara matahari dan Bumi.
Citra korona tersebut telah menunjukkan untuk pertama kalinya titik pancaran sinar-X yang cemerlang yang terdiri dari puntiran-puntiran (loops) magnetik. Citra tersebut juga menyingkap detail struktur di daerah kutub matahari, bersama dengan puntiran daerah-daerah aktif. Sebelumnya korona hanya terlihat pada saat gerhana matahari dalam warna putih cemerlang.

(gambar: Hinode JAXA/NASA/PPARC)
Sementara itu, perangkat Solar Optical Telescope mengirimkan citra yang menunjukkan permukaan matahari yang telah diperbesar. Citra tersebut mengungkap detail baru dari apa yang disebut konveksi matahari, suatu proses yang mengendalikan semburan dan jatuhan gas pada daerah atmosfir terendah matahari, fotosfir. Selain itu, perangkat Solar Optical Telescope juga merupakan instrumen berbasis antariksa pertama yang mampu mengukur kekuatan dan arah medan magnet matahari.
Dengan menggabungkan observasi dari perangkat optik dan teleskop sinar-X Hinode, para ilmuwan dapat mempelajari bagaimana perubahan pada medan magnet matahari memicu lepasnya materi pada korona.
Misi Hinode, yang sebelum peluncurannya dikenal sebagai “Solar-B”, dioperasikan oleh JAXA sebagai misi kolaboratif yang melibatkan badan ruang angkasa Jepang, AS, Inggris dan Eropa. Wahana ini dikendalikan dari fasilitas milik JAXA di Sagamihara, Jepang. (www.nasa.gov/solar-b)
