Citra Hinode Ungkap Aktivitas Permukaan Matahari
Rabu 21 Maret lalu, NASA merilis citra yang belum pernah terlihat sebelumnya yang menunjukkan medan magnetik matahari yang lebih bergejolak dan dinamis daripada yang selama ini diketahui. Citra ini diambil oleh wahana internasional Hinode.
“Untuk pertama kalinya kita kini dapat menyaksikan semburan gas panas yang muncul dan menghilang di di atmosfir matahari yang termagnetisasi,” demikian menurut Dick Fisher, direktur Divisi Heliofisika NASA di Washington. “Citra-citra ini akan membuka era baru dari studi pada proses-proses di matahari yang berpengaruh pada Bumi, astronaut, satelit yang mengorbit, dan tata surya.”
Ketiga instrumen utama Hinode, Teleskop Solar Optikal, Teleskop sinar-X, dan perangkat yang disebut Extreme Ultraviolet Imaging Spectrometer mengamati lapisan yang berbeda dari matahari. Penelitian difokuskan pada atmosfir matahari pada permukaan matahari yang terlihat, yang dikenal sebagai fotosfer, hingga korona, atmosfer terluar dari matahari.
Salah satu citra yang diambil oleh perangkat teleskop optik Hinode pada 20 November 2006, menunjukkan struktur medan magnetik yang terlepas secara vertikal dari sebuah bintik matahari (Gambar: Hinode JAXA/NASA)
“Dengan menggabungkan hasil pengukuran dari ketiga instrumen itu, Hinode menunjukkan bagaimana perubahan pada struktur medan magnet dan pelepasan energi magnetik pada atmosfer rendah menyebar lewat korona dan selanjutnya ke ruang antar planet untuk menciptakan kondisi cuaca di antariksa (space weather),” demikian dijelaskan oleh John Davis, saintis proyek dari Marshall Space Flight Center di Huntsville, Alabama.
Kondisi ini melibatkan produksi partikel berenergi dan emisi radiasi elekromagnetik. Ledakan energi tersebut dapat mengganggu sistem komunikasi jarak jauh dan sistem navigasi global di Bumi.
“Citra dari Hinode mengungkap bukti tak terbantahkan dari keberadaan proses yang dipicu oleh turbulensi yang membawa medan magnetik, dalam semua skala, ke permukaan matahari, menghasilkan kromosfer yang sangat dinamik atau selubung gas di sekeliling matahari,” demikian menurut Alan Title dari Lockhed Martin, Palo Alto, California, dan profesor fisika dari Stanford University, Stanford, California.
Wahana Hinode, dari bahasa Jepang “matahari terbit”, diluncurkan pada 23 September 2006 dengan misi untuk mempelajari medan magnetik matahari. Hinode merupakan misi kolaboratif yang dipimpin oleh Lembaga Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA), dan melibatkan diantaranya Lembaga Ruang Angkasa Eropa (ESA), dan Lembaga Riset Astronomi Fisika Partikel Inggris. Sementara itu, Observatorium Nasional Jepang di Tokyo mengembangkan Teleskop Optik Matahari, serta bekerjasama dengan Observatorium Astrofisika Smithsonian di Massachussets untuk mengembangkan Teleskop Sinar-X. (www.nasa.gov/hinode)