Akhir Hidup Sebuah Bintang Masif
Para astronom mungkin telah menyaksikan kematian dari sebuah bintang paling masif yang ada. Suatu kolaborasi global dari para astronom yang dipimpin oleh Queen’s University di Belfast bersama dengan pemburu supernova Jepang, Koicho Itagaki melaporkan penemuan ini. Sebuah ledakan ganda, yang pertama dalam jenisnya yang dapat diamati, menantang pemahaman kita selama ini mengenai akhir hidup bintang.
Pada 2004, Itagaki menemukan sebuah bintang yang meledak di galaksi UGC4904 (78 juta tahun cahaya di rasi Lynx), yang segera meredup dan hilang dari pandangan dalam tempo 10 hari. Penemuan ini tidak pernah diumumkan secara formal kepada komunitas astronomi. Dua tahun kemudian, Itagaki kembali menemukan ledakan baru yang lebih cemerlang di tempat yang sama, yang ia perkirakan sebagai sebuah supernova. Profesor Stephen Smartt dan Dr. Andrea Pastorello, astronom di Queen”s University, seketika menyadari implikasi dari penemuan ini.
Mereka mulai mengamati supernova tahun 2006 (SN2006jc) dengan berbagai teleskop besar dan menganalisis citra dari Itagaki yang dipakai untuk menunjukkan bahwa kedua ledakan itu berasal dari tempat yang sama. Penjelasan yang paling mungkin dari ledakan tahun 2004 berasal dari sebuah bintang yang mirip Eta Carinae, yang telah diamati mengalami ledakan besar yang serupa sekitar tahun 1850-an. Supernova 2006 adalah tahap kematian yang terakhir dari bintang yang sama.

Bintang yang meledak pada 2004, dan kemudian pada 2006, kemungkinan adalah bintang yang sangatr masif seperti halnya Eta Carinae yang dicitrakan disini oleh Teleskop Antariksa Hubble (Gambar: Jon Morse/STScI/NASA)
“Kami telah mengetahui bahwa hanya bintang yang paling masif sajalah yang dapat menghasilkan ledakan seperti ini. Dengan demikian, supernova 2006 seharusnya adalah proses kematian dari bintang yang sama, kemungkinan sebuah bintang yang antara 50 hingga 100 kali lebih masif daripada Matahari,” demikian dikatakan Pastorelli. SN2006jc sendiri dianggap sebagai suatu anomali, karena kaya akan unsur kimia helium–yang tidak biasanya ditemukan dalam sebuah supernova.
Pastorello menggunakan teleskop milik Inggris (Liverpool Telescope dan William Herschel Telescope) di observarorium La Palma dalam suatu usaha gabungan antara astronom Eropa dan Asia untuk memonitor tingkat energi dari SN2006jc. Ia menunjukkan bahwa bintang yang meledak tersebut mestinya adalah bintang dari jenis Wolf-Rayet, sisa-sisa karbon-oksigen yang berasal dari bintang bermassa besar.
Profesor Smartt menerima pendanaan dari suatu lembaga prestisius, EURYI, untuk mempelajari kelahiran dan kematian bintang. “Supernova adalah ledakan dari sebuah bintang masif yang telah kehilangan atosfer bagian luarnya, mungkin dalam sebuah ledakan kecil namun serius seperti yang pernah diamati oleh Koichi pada 2004. Bintang tersebut demikian masifnya sehingga mungkin akan membentuk sebuah lubang hitam saat ia runtuh,” demikian diungkapkan oleh Smartt. “Ini adalah pertama kalinya ditemukan dua ledakan dari bintang yang sama, dan hal ini menantang teori-teori kita mengenai kehidupan dan kematian sebuah bintang.”
Peristiwa semacam ini mungkin lebih sering daripada anggapan selama ini. Di masa depan, teleskop Pan-STARRS, dimana kamera digital terbesar di dunia akan ditempatkan, akan memiliki kemampuan untuk mensurvei keseluruhan langit setiap seminggu sekali, dan dapat mencari supernova ganjil semacam ini. Queen’s University adalah mitra dari tim sains Pan-STARRS. (star.pst.qub.ac.uk/news)
