Penemuan 9 Galaksi Kecil

Pengamatan secara bersama oleh Teleskop Antariksa Hubble (NASA/ESA) dan Teleskop Antariksa Spitzer (NASA) telah menemukan 9 dari galaksi yang paling kecil, redup, dan kompak yang pernah ditemukan di alam semesta. Bersinar dengan kecerlangan jutaan bintang, masing-masing galaksi yang baru ditemukan itu berukuran ribuan kali lebih kecil daripada galaksi kita, Bimasakti.

Model konvensional untuk evolusi galaksi memprediksi bahwa galaksi kecil di alam semesta pada masa awal kelak akan menjelma menjadi galaksi masif melalui penggabungan. Kesembilan material pembangun galaksi yang semula dideteksi oleh teleskop Hubble kelihatannya berkontribusi terhadap pembentukan alam semesta seperti yang kita ketahui sekarang. Menurut Nor Pirzkal, dari ESA, galaksi-galaksi tersebut adalah galaksi bermassa paling kecil yang pernah diamati secara langsung di alam semesta pada masa awal.

Pirzkal semula dikejutkan dengan penemuan bahwa galaksi-galaksi terebut diperkirakan memiliki massa yang sangat kecil. Teleskop Antariksa Spitzer lantas digunakan untuk melakukan pengukuran yang lebih presisi terhadap massa galaksi-galaksi tersebut. Spitzer lantas mengkonfirmasikan bahwa galaksi-galaksi yang baru ditemukan itu merupakan sebagian dari komponen terkecil yang membangun alam semesta.

build_block_gala_485.jpg
Sejumlah galaksi kecil yang baru ditemukan tampak dalam gambar ini (Gambar: NASA, ESA, N. Pirzkal – European Space Agency/STScI)

Galaksi-galaksi muda tersebut memberikan wawasan baru tentang tahun-tahun pembentukan alam semesta, hanya beberapa miliar tahun setelah peristiwa Big Bang (dentuman besar yang menandai awal terbentuknya alam semesta, -red). Teleskop Hubble telah mendeteksi bintang-bintang berwana biru safir yang berada didalam kesembilan galaksi tersebut. Bintang-bintang muda itu usianya hanya beberapa juta tahun dan sedang dalam proses pengubahan elemen-elemen tinggalan Big Bang (hidrogen dan helium) menjadi elemen yang lebih berat. Bintang-bintang tersebut kemungkinan belum mulai melepas elemen-elemen dari inti bintang ke lingkungan sekelilingnya.

“Cahaya biru yang dilihat oleh Hubble menunjukkan keberadaan bintang-bintang muda, sementara ketiadaan sinar inframerah, menunjukkan bahwa galaksi ini adalah betul-betul galaksi muda tanpa adanya generasi bintang yang lebih awal,” jelas Sangeeta Malthora, salah seorang peneliti dari Arizona State University di Tempe.

Galaksi-galaksi itu pertama kali diidentifikasi oleh James Rhoads dari Arizona State University dan Chun Xu dari Shanghai Institute of Technical Physics di Shanghai, China. Tiga diantara galaksi-galaksi tersebut kelihatannya sedikit berbeda — bukannya berbentuk gumpalan yang bundar, namun sedikit melebar di salah satu sisinya (mirip seperti bentuk berudu/kecebong). Ini merupakan pertanda bahwa galaksi-galaksi tersebut mungkin sedang berinteraksi dan bergabung dengan galaksi lain untuk membentuk struktur yang lebih besar dan kohesif.

Galaksi-galaksi tersebut diamati melalui perangkat Hubble Ultra Deep Field (HUDF) bersama dengan Advanced Camera for Surveys (ACS) dan Near Infrared Camera and Multi-Object Spectrometer pada Hubble, dan Infrared Array Camera pada Spitzer. Sementara itu, pengamatan berbasis darat di European Southern Observatory memanfaatkan perangkat Infrared Spectrometer and Array Camera.

Mengamati dan menganalisis galaksi sekecil itu dalam jarak yang sedemikian jauh merupakan batas kemampuan yang dimiliki kebanyakan teleskop terkuat yang dikenal saat ini. Citra diambil dengan filter warna yang berbeda dengan ACS, dibantu dengan ekspos yang diambil melalui perangkat yang disebut “grism” — kombinasi dari prisma dan grating yang berfungsi mempertahankan berkas sinar pada panjang gelombang yang dipilih. Grism menyebarkan warna-warni yang dipancarkan galaksi tersebut dalam bentuk jejak cahaya pendek (“trails“). Analisis terhadap trails memungkinkan pengenalan emisi dari gas hidrogen yang berpendar, menghasilkan data, baik jarak maupun perkiraan mengenai tahapan formasi bintang.

“Spektrum grism” ini — diambil oleh Hubble dan dianalisis oleh software yang dikembangkan di Space Telescope-European Coordinating Facility di Munich, Jerman — dapat digunakan pada objek yang secara signifikan lebih redup daripada yang dapat dipelajari secara spektroskopi melalui teleskop yang ada saat ini. (www.esa.int)


About this entry