Planet Batuan di Bintang Lain

Para astronom telah menemukan bahwa planet batuan (terrestrial) mungkin mengorbit di banyak, atau bahkan sebagian besar, bintang dekat yang mirip matahari di galaksi kita. Hal ini menunjukkan bahwa dunia yang potensial dihuni oleh bentuk kehidupan mungkin lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Astronom dari University of Arizona, Michael Meyer, memimpin riset dengan Teleskop Antariksa Spitzer untuk menentukan apakah sistem planet seperti tata surya di galaksi kita adalah umum ataukah lebih langka. Meyer dan para koleganya menemukan bahwa setidaknya 20 persen, dan kemungkinan hingga 60 persen dari bintang yang sejenis dengan matahari adalah kandidat untuk membentuk planet batuan.

Meyer mempresentasikan temuannya pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science pada 18 Februari 2008. Penelitiannya telah dimuat pada Astrophysical Journal Letters terbitan 1 Februari 2008.

Anggota tim Meyer termasuk John Carpenter dari California Institute of Technology, Eric Mamajek dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, dan 11 astronom lainnya dari Amerika Serikat dan Jerman. Mereka mensurvey 6 kelompok bintang yang massanya sebanding dengan matahari menggunakan teleskop Spitzer. Bintang-bintang tersebut dikelompokkan berdasarkan umurnya, berkisar antara 3 - 10 juta tahun, 10 - 30 juta tahun, 30 - 100 juta tahun, 100 - 300 juta tahun, 300 juta - 1 miliar tahun, dan 1 - 3 miliar tahun.

Mereka mempelajari evolusi gas dan debu di sekeliling bintang yang serupa dengan matahari dan membandingkan hasilnya dengan gambaran tata surya pada masa awal terbentuknya. Matahari kita sendiri berusia sekitar 4,6 miliar tahun.

Teleskop Spitzer mendeteksi debu dalam kisaran panjang gelombang inframerah. Debu terpanas, dengan suhu 2000 derajat Fahrenheit, terdeteksi pada panjang gelombang terpendek, antara 3,6 mikron dan 8 mikron. Debu yang lebih dingin, sekitar minus 380 derajat Fahrenheit, terdeteksi pada gelombang terpanjang, antara 70 hingga 160 mikron. Debu hangat, antara minus 280 dan 80 derajat Fahrenheit, terdeteksi pada panjang gelombang 24 mikron.

Meyer menemukan bahwa sekitar 10 hingga 20 persen bintang pada setiap dari 4 kelompok termuda menunjukkan emisi 24 mikron. Namun mereka tidak menemukan debu hangat di sekeliling bintang yang lebih tua dari 300 juta tahun. Hal ini sebanding dengan skala waktu bagi pembentukan dan evolusi dinamis pada tata surya kita. Model teoretis dan data meteoritik menunjukkan bahwa Bumi kita terbentuk pada 10 hingga 50 juta tahun dari saat tubrukan antara objek-objek yang lebih kecil.

Dalam studi terpisah, Thayne Currie dan Scott Kenyon dari Astrophysical Observatory, Cambridge, Massachussets beserta timnya juga menemukan bukti keberadaan debu dari planet terrestrial di sekitar bintang berusia 10 hinga 30 juta tahun. Menurut Meyer, observasi yang dilakukan tersebut menunjukan bahwa pembentukan Bumi kemungkinan besar terjadi di sekitar bintang berusia antara 3 hingga 300 juta tahun.

Hasil pemodelan yang dilakukan Kenyon dan Ben Broomley dari University of Utah, Salt Lake City, menujukan debu yang hangat bisa dideteksi pada panjang gelombang 24 mikron saat objek kecil saling bertabrakan dan bergabung membentuk sebuah planet. Menurut Kenyon, debu hangat yang dideteksi oleh Meyer dan timnya merupakan hasil alami dalam pembentukan planet batuan.

Jumlah bintang yang bisa membentuk planet batuan memang masih belum dapat ditentukan secara pasti, karena ada lebih dari satu cara untuk menginterpretasi data dari Spitzer. Salah satu interpretasi lainnya adalah, sebagian besar piringan masif akan mengalami proses tabrakan diawal dan kemudian membentuk planet dengan cepat. Inilah yang mungkin dilihat oleh Meyer dan timnya pada bintang muda. Piringannya akan mati muda, bersinar terang di masa awal dan kemudian musnah. Namun piringan yang kurang masif akan bercahaya lebih lambat, sehingga pembentukan planet pada kasus piringan yang kurang masif akan berjalan terlambat karena sedikitnya partikel yang saling bertabrakan.

Jika teori ini benar, maka piringan yang sangat masif akan membentuk planetnya di awal masa hidupnya sementara piringan yang tidak masif membutuhkan waktu 10 hingga 100 kali lebih lama. Dengan demikian akan ada lebih dari 62% bintang yang diurvei telah membentuk atau sedang membentuk planet. Jawaban yang sesungguhnya berada di antara rentang 20-60% tersebut. (uanews.org)


About this entry