Kerdil Coklat Terdingin
Tim antarbangsa dibawah pimpinan astronom dari Prancis dan Kanada telah menemukan objek kerdil coklat (brown dwarf) paling dingin yang pernah diamati. Hasil penelitian mereka telah dipublikasikan pada 10 April lalu dalam jurnal Astronomy & Astrophysics. Penemuan ini dicapai memanfaatkan teleskop Canada France Hawaii dan teleskop Gemini North, keduanya terletak di Hawaii, dan teskop ESO/NTT di Chile.
Objek kerdil coklat tersebut dinamai CFBDS J005910.83-011401.3 (untuk selanjutnya disebut sebagai CFBDS0059 saja). Suhunya diperkirakan berkisar 350°C dengan massa sekitar 15-30 kali massa Jupiter, planet terbesar di tata surya kita. Terletak sejauh 40 tahun cahaya dari tata surya sebagai objek terisolasi, dalam artian tidak mengorbit bintang lain.
Objek ini pertama kali teridentifikasi pada citra dari kamera bidang lebar (wide-field) “Megacam” yang terpasang pada teleskop Canada France Hawaii (CFHT). Selanjutnya, citra inframerah diambil menggunakan teleskop NTT dan mengkonfirmasi rendahnya suhu objek tersebut. Akhirnya, spektrum yang menunjukkan keberadaan amonia didapat dengan menggunakan teskop Gemini North.
Kerdil coklat adalah calon bintang (protostar) yang gagal membentuk bintang karena massanya masih terlalu kecil untuk memicu fusi nuklir pada intinya. Objek tersebut biasanya memiliki massa kurang dari 70 kali massa Jupiter. Tidak seperti bintang pada umumnya, yang menghabiskan usianya dengan membakar hidrogen hingga memiliki temperatur internal yang konstan, kerdill coklat akan terus mendingin seteleh terbentuk.
Kerdil coklat pertama kali dikenal pada 1995. Sejak saat itu, sejumlah objek sejenis telah pula ditemukan dengan berbagai karakteristik. Sebagian memiliki karakteristik yang hampir sama dengan sebuah planet raksasa, namun masih menyisakan beberapa perbedaan. Sebagai contoh, kabut debu dan aerosol, bersama dengan sejumlah besar metana terdeteksi dalam atmosfer kerdil coklat dari jenis yang lebih dingin, seperti halnya pada Jupiter dan Saturnus. Namun demikian, masih ada dua perbedaan utama diantara keduanya. Pada atmosfer kerdil coklat, air selalu berada dalam bentuk gas, sementara di planet raksasa, air membeku membentuk es. Amonia tidak pernah terdeteksi pada pada spektrum near-infrared kerdil coklat, sementara di planet semacam Jupiter, sebagian besar komponennya terdiri atas amonia. CFBDS0059, kerdil coklat yang baru ditemukan ini lebih banyak memiliki ciri sebagai planet ketimbang yang pernah didapati pada objek sejenis, baik dari segi temperaturnya yang rendah, maupun dari keberadaan amonia.
Saat ini, kerdil coklat digolongkan menjadi dua kelas berdasarkan suhunya: L dwarfs (1200-2000°C), yang memiliki awan debu dan aerosol pada atmosfir bagian atasnya, dan T dwarfs (lebih kecil dari 1200°C), yang memiliki spektrum yang sangat berbeda karena keberadaan metana yang terbentuk pada atmosfernya. Karena kandungan amonianya, dan suhunya yang lebih rendah daripada kelompok L dan T dwarfs, CFBDS0059 mungkin merupakan prototipe dari kelas baru yang disebut Y dwarfs, yang mungkin akan mengisi “missing link” dari urut-urutan antar bintang terpanas ke planet raksasa dengan suhu kurang dari -100°C.
Penemuan ini juga mempunyai implikasi penting dalam studi planet ekstrasolar. Atmosfer kerdil coklat kelihatan sangat mirip dengan planet raksasa, dengan demikian, permodelan yang sama dapat digunakan untuk mereproduksi kondisi fisiknya. Permodelan tersebut perlu diuji untuk dicocokkan dengan hasil pengamatan. Mengamati atmosfer planet ekstrasolar adalah hal yang sagat sulit karena berkas cahaya dari planet yang diamati telah terkaburkan oleh cahaya bintang induknya yang jauh lebih kuat. Karena kerdil coklat adalah objek terisolasi, maka akan lebih mudah diamati. Dengan demikian, mengamati kerdil coklat dengan suhu mendekati planet raksasa akan membantu para astronom dalam menguji permodelan atmosfer planet ekstrasolar. (www.aanda.org)
