<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Astronomi</title>
	<atom:link href="http://ias.dhani.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ias.dhani.org</link>
	<description>Berita dan Peristiwa Seputar Antariksa</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Oct 2009 00:58:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Untaian Mutiara Kosmik</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/10/04/untaian-mutiara-kosmik/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/10/04/untaian-mutiara-kosmik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 17:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[galaxy]]></category>
		<category><![CDATA[star]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Teleskop antariksa Herschel baru-baru ini telah menyajikan pemandangan spektakular dari kabut gas yang terbentang di dekat bidang galaksi Bima Sakti. Citra yang diambil mengungkapkan adanya aktifitas yang intens dan tak terduga. Daerah yang gelap dan dingin dengan titik-titik tempat bintang dilahirkan ibarat untaian mutiara kosmik.
Pada 3 September lalu, Herschel diarahkan ke suatu reservoir kabut gas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teleskop antariksa Herschel baru-baru ini telah menyajikan pemandangan spektakular dari kabut gas yang terbentang di dekat bidang galaksi Bima Sakti. Citra yang diambil mengungkapkan adanya aktifitas yang intens dan tak terduga. Daerah yang gelap dan dingin dengan titik-titik tempat bintang dilahirkan ibarat untaian mutiara kosmik.</p>
<p>Pada 3 September lalu, Herschel diarahkan ke suatu reservoir kabut gas dingin di konstelasi Salib Selatan (<em>Southern Cross</em>) di dekat bidang galaksi. Saat teleskop tersebut memindai langit, perangkat <em>Spectral and Photometric Imaging REceiver</em>, SPIRE, dan <em>Photoconductor Array Camera and Spectrometer</em>, PACS mengambil sejumlah citra dari daerah yang terletak di sekitar 60° dari pusat galaksi, ribuan tahun cahaya dari bumi.</p>
<p>Lima panjang gelombang inframerah telah dikodekan dalam bentuk warna-warni untuk memungkinkan para ilmuwan membedakan material yang sangat dingin (merah) dengan lingkungan sekitarnya yang sedikit lebih hangat (biru).</p>
<p>Citra ini mengungkap struktur pada material di Galaksi kita, dalam bentuk yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Bahkan sebelum ada analisis yang lebih rinci, para ilmuwan telah mengumpulkan informasi mengenai kuantitas material, massa, temperatur, komposisi, dan apakah struktur tersebut sedang runtuh untuk membentuk bintang-bintang baru.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-434" title="G299_SPIRE_Crop_L" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2009/10/G299_SPIRE_Crop_L.jpg" alt="G299_SPIRE_Crop_L" width="400" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-433" title="G299_PACS_Crop_L" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2009/10/G299_PACS_Crop_L.jpg" alt="G299_PACS_Crop_L" width="371" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Citra dari instrumen SPIRE (atas) dan PACS (bawah) yang diambil oleh teleskop Herschel (Gambar: ESA)</em></p>
<p>Bahwa area yang gelap dan dingin semacam ini ternyata penuh dengan aktifitas adalah hal yang tak terduga. Namun citra-citra itu juga mengungkapkan adanya gejolak yang mengejutkan: material antarbintang berkondensasi menjadi filamen yang memalar (<em>continous</em>) dan saling terhubung yang berpendar dari cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang yang baru lahir pada berbagai tingkat perkembangan. Galaksi kita adalah galaksi yang secara konstan melahirkan bintang-bintang generasi baru.</p>
<p>Bintang-bintang terbentuk dari lingkungan yang digin dan padat, dan dalam citra-citra tersebut, mudah untuk menemukan tempat dimana terdapat filamen bintang yang tengah membentuk, suatu pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan pada citra dengan panjang gelombang tunggal.</p>
<p>Biasanya, dalam daerah yang penuh sesak semacam ini, terletak di bidang galaksi kita dan mengandung banyak kabut molekular sejauh mata memandang, para astronom akan mengalami kesulitan untuk melihat secara lebih detail. Namun instrumen inframerah Herschel yang canggih memudahkan pekerjaan itu, melihat kedalam kabut yang suram dalam cahaya kasatmata, dan menyaksikan pendar dari debu itu sendiri. Observasi ini tidak mungkin untuk dilakukan dengan peralatan yang berbasis di darat.</p>
<p>Hasilnya adalah pemandangan dari struktur jejaring filamen yang menakjubkan, dan fitur-fitur yang mengindikasikan rantai peristiwa formasi bintang yang hampir simultan, gemerlap laksana rangkaian mutiara, jauh di kedalaman galaksi kita. (<em>www.esa.int</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/10/04/untaian-mutiara-kosmik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cakram Debu di 51 Ophiuchi</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/10/04/cakram-debu-di-51-ophiuchi/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/10/04/cakram-debu-di-51-ophiuchi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 17:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[star]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan teleskop kembar berdiameter 10 meter di Observatorium W.M. Keck, Hawaii, para astronom telah menemukan salah satu dari cakram debu paling kompak yang mengedari sebuah bintang. Apabila berada di dalam tata surya kita, maka cakram itu akan membentang sekitar empat kali jarak Bumi ke Matahari, hingga mendekati orbit planet Jupiter. Cakram bagian dalam yang kompak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menggunakan teleskop kembar berdiameter 10 meter di Observatorium W.M. Keck, Hawaii, para astronom telah menemukan salah satu dari cakram debu paling kompak yang mengedari sebuah bintang. Apabila berada di dalam tata surya kita, maka cakram itu akan membentang sekitar empat kali jarak Bumi ke Matahari, hingga mendekati orbit planet Jupiter. Cakram bagian dalam yang kompak tersebut juga ditemani oleh cakram luar yang terentang hingga ratusan kali lebih jauh.</p>
<p>Kunci keberhasilan studi ini adalah <em>Keck Interferometer Nuller</em> (KIN), suatu perangkat yang mengkombinasikan cahaya yang tertangkap oleh masing-masing teleskop raksasa tersebut, sedemikian rupa sehingga memungkinkan para peneliti mempelajari objek redup yang biasanya tenggelam oleh cemerlangnya cahaya bintang di dekatnya. “Ini adalah cakram kompak pertama yang dideteksi oleh KIN, dan menunjukkan kemampuannya untuk mendeteksi kabut debu yang ratusan kali lebih kecil daripada yang bisa dilihat oleh teleskop konvensional,” jelas Christopher Stark, astronom di <em>Goddard Space Flight Center</em>, NASA, di Greenbelt, Madison, yang memimpin tim peneliti. </p>
<p>Dengan menggabungkan pancaran cahaya yang diterima oleh kedua teleskop dengan cara tertentu, KIN pada dasarnya membuat suatu “blind spot” yang menghalangi pancaran cahaya bintang yang tak diperlukan namun memungkinkan sinyal redup yang berdekatan – seperti cahaya dari cakram debu yang melingkupi bintang – untuk menembusnya.</p>
<p>Pada bulan April 2007, tim yang sama mengamati bintang target, 51 Ophiuchi, bintang tipe B yang muda dan panas sejauh 410 tahun cahya di konstelasi Ophiuchus. Para astronom menduga bahwa bintang tersebut beserta cakram yang melingkupinya merepresentasikan contoh yang langka dan dekat dari sistem planeter muda yang sedang memasuki fase terakhir dari pembentukan planet-planetnya, walaupun masih belum diketajio apakah planet-planet tersebut benar-benar telah membentuk.</p>
<p>“Observasi terkini kami menunjukkan bahwa 51 Ophiuchi adalah sistem protoplanet (calon planet) yang indah dengan suatu kabut debut dari komet dan asteroid yang sangat dekat dengan bintang induknya,” timpal Marc Kuchner, astronom di Goddard yang juga anggota dari tim peneliti.</p>
<p>Sistem planeter adalah tempat yang sangat berdebu. Kebanyakan diantara debu di tata surya kita terbentuk didalam garis orbit Jupiter, saat komet-komet mengalami kehancuran di dekat Matahari dan asteroid dalam berbagai ukuran saling berbenturan. Kabut ini merefleksikan cahaya matahari dan sewaktu-waktu dapat dilihat sebagai pendar cahaya di langit – dikenal sebagai cahaya zodiak (<em>zodiacal light</em>) – sebelum matahari terbit atau terbenam.</p>
<p>Kabut debu di sekeliling bintang lain yang terbentuk melalui proses yang sama disebut sebagai kabut “exozodiacal”. “Studi kami menunjukkan bahwa cakram di 51 Ophiuchi lebih dari 100.000 kali lebih tebal daripada kabut zodiak di tata surya kita,” jelas Stark. “Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini masih relatif muda, dengan banyak benda angkasa yang saling berbenturan yang menghasilkan sejumlah besar debu.”</p>
<p>Untuk menguraikan struktur dari kabut debu bintang tersebut, tim peneliti mengkombinasikan hasil observasi KIN pada berbagai panjang gelombang dengan studi sebelumnya yang memanfaatkan Teleskop Antariksa Spitzer dan perangkat <em>Very Large Telescope Interferometer</em> di <em>European Southern Observatory</em> di Chile.</p>
<p>Cakram bagian luar mulai membentuk pada sekitar dimana cakram bagian dalam berakhir dan mencapai jarak sekitar 1.200 AU. Penanda inframerahnya menunjukkan bahwa cakram tersebut terutama tersusun atas partikel debu dengan volume hanya 1 persen dari ukuran debu yang sama di cakram bagian dalam, atau setara dengan partikel pada asap. Perbedaan lainnya: cakram bagian luar terlihat lebih menyebar, hingga jauh keluar dari bidang orbitnya ketimbang cakram bagian dalam.</p>
<p>“Kami menduga bahwa cakram bagian dalam mendorong pengembangan cakram bagian luar,” jelas Kuchner. Saat asteroid dan komet saling berbenturan hingga menghasilkan debu, partikel yang lebih besar secara alami berpilin ke arah bintang. Namun tekanan dari cahaya bintang menekan partikel-partikel yang lebih kecil keluar dari sistem. Proses ini, yang juga terjadi di tata surya kita, nampaknya bekerja lebih baik di sekitar 51 Ophiuchi, bintang yang 260 kali lebih cemerlang daripada Matahari.</p>
<p>Penemuan ini telah dipublikasikan melalui Astrophysical Journal edisi 1 Oktober lalu. (<em>www.nasa.gov/goddard</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/10/04/cakram-debu-di-51-ophiuchi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukti Keberadaan Air di Permukaan Bulan</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/10/03/bukti-keberadaan-air-di-permukaan-bulan/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/10/03/bukti-keberadaan-air-di-permukaan-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 18:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Moon]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Data baru dari wahana Deep Impact dan Moon Mineralogy Mapper (M3), instrumen yang dibawa oleh wahana milik India yang baru saja menghakhiri misinya di Bulan, Chandrayaan-1, untuk pertama kalinya menyajikan bukti yang jelas bahwa air ternyata eksis di permukaan Bulan.
“Observasi oleh wahana Deep Impat terhadap permukaan bulan tidak hanya tegas-tegas mengkonfirmasi keberadaan OH/H2O di permukaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Data baru dari wahana Deep Impact dan <em>Moon Mineralogy Mapper</em> (M3), instrumen yang dibawa oleh wahana milik India yang baru saja menghakhiri misinya di Bulan, Chandrayaan-1, untuk pertama kalinya menyajikan bukti yang jelas bahwa air ternyata eksis di permukaan Bulan.</p>
<p>“Observasi oleh wahana Deep Impat terhadap permukaan bulan tidak hanya tegas-tegas mengkonfirmasi keberadaan OH/H2O di permukaan bulan, melainkan juga mengungkap bahwa keseluruhan permukaan bulan terbasahi setidaknya pada sebagian sisi permukaan bulan yang mengalami siang hari,” demikian tulis Jessica Sunshine, astronom dari <em>University of Maryland</em> yang juga penulis utama dari paper mengenai data dari wahana Deep Impact yang diterbitkan pada jurnal <em>Science</em> pada 24 September lalu.</p>
<p>Sejumlah kecil air menghasilkan kegembiraan besar. “Menemukan air di bulan di siang hari adalah kejutan besar, bahkan apabila hanya sedikit air dan hanya dalam bentuk molekul yang menempel di tanah,” jelas Sunshine. Pandangan ilmiah selama ini menyatakan bahwa kemungkinan <a href="/2006/10/20/tidak-ada-bukti-deposit-es-di-bulan/">tidak ada air di permukaan Bulan</a>, dan sekalipun ada, hanya dapat ditemui di kawah yang berbayang dan dingin secara permanen di kutub bulan.</p>
<p>&#8220;Dalam data dari Deep Impact, kita pada dasarnya menyaksikan molekul air membentuk dan kemudian menghilang tepat di depan mata kita,&#8221; kata Sunshine, yang mengatakan reaksi pertamanya terhadap data M3 adalah skeptis.</p>
<p>&#8220;Kami tidak yakin bagaimana hal ini terjadi,&#8221; katanya, &#8220;tapi temuan kami menunjukkan sebuah siklus yang didorong oleh matahari dimana lapisan air yang hanya setebal beberapa molekul membentuk, menghilang dan kembali membentuk setiap hari di permukaan bulan. Kami berpendapat bahwa ion hidrogen dari matahari yang dibawa oleh angin matahari ke Bulan telah berinteraksi dengan mineral yang kaya oksigen dalam tanah bulan untuk menghasilkan molekul air [H2O] dan hidroksil [OH] yang ditunjukkan secara meyakinkan melalui analisa spektral. Dalam sebuah siklus yang terjadi seluruhnya di siang hari, air ini terbentuk di pagi hari, secara substansial hilang pada tengah hari, dan kembali terbentuk saat permukaan bulan mendingin menjelang malam hari.</p>
<p>&#8220;Jika hal ini benar, maka hidrasi melalui angin surya diperkirakan akan terjadi di seluruh Tata Surya bagian dalam pada semua objek hampa udara dengan mineral yang mengikat oksigen pada permukaannya,&#8221; kata Sunshine.</p>
<p>&#8220;Dalam konteks sains Bulan, ini adalah penemuan besar,&#8221; tegas Paul G. Lucey, seorang ilmuwan planet dari University of Hawaii dalam sebuah artikel yang dimuat di  harian Los Angeles Times.</p>
<p>“Tidak ada bukti yang dapat diterima bahwa terdapat air di permukaan bulan, [tapi] kini telah ditunjukkan bahwa hal itu dengan mudah dapat dideteksi melalui metode yang sangat sensitif. Sebagai ilmuwan yang mempelajari bulan, saat saya membaca tentang ini, saya merasa sangat senang,” jelas Lucey, yang tidak terlibat dalam riset tersebut.</p>
<p>Walaupun instrumen M3 dan tim sainsnya telah membuat penemua awal mengenai keberadaan air di sejumlah area di permukaan Bulan, Sunshine dan para <em>co-author</em> dari paper Deep Impact menyatakan bahwa bukti konklusif dari penemuan air, pemahaman bahwa itu adalah fenomena yang terjadi di seluruh permukaan, dan pengetahuan bahwa itu adalah proses yang bergantung pada suhu hanya dimungkinkan berkat data yang dikumpulkan oleh wahana Deep Impat dalam misi lanjutannya saat ini (dengan nama <em>Extrasolar Planet Observation and Deep Impact Extended Investigation</em>, <a href="/2007/07/21/tugas-baru-untuk-wahana-veteran/">EPOXI</a>).</p>
<p>Deep Impact tidak didesain untuk mempelajari Bulan, namun untuk misi yang terkenal pada 2005, dimana wahana ini berhasil melubangi permukaan komet Tempel 1 untuk mencari tahu apa yang ada didalamnya. Data mengenai air di permukaan bulan diambil sebagai bagian dari kesempatan melakukan kalibrasi pada perlintasan dengan Bumi dan Bulan yang terjadi pada Juni 2009 dan Desember 2007 guna mendapatkan dorongan gravitasi untuk mencapai komet kedua dalam misinya, Hartley 2, yang akan dicapainya pada November 2010 mendatang.</p>
<p>“Tanpa rentang spektral dari instrumen Deep Impact, penemuan air di permukaan oleh M3 tidak akan sampai sedemikian definitif, dan karena wahana Deep Impact melakukan observasi pada waktu-waktu yang berbeda dari siang hari di Bulan, efek dari temperatur menjadi lebih jelas terlihat,” jelas Sunshine.</p>
<p>Astronom dari <em>University of Maryland</em>, Michael A’Hearn, pimpinan tim sains Deep Impact dan EPOXI, dan salah satu dari empat <em>co-author</em> Sunshine menyatakan, “Saya pikir, adalah sangat hebat bahwa wahana Deep Impact, yang pernah menjadi yang pertama mendeteksi es pada inti sebuah komet, kini mendemonstrasikan eksistensi keberadaan air di Bulan.”</p>
<p>“Wahana dan instrumen yang hebat ini terus membuat penemuan yang penting dan tak terduga, lama setelah misi utamanya selesai,” lanjutnya. (<em>newsdesk.umd.edu</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/10/03/bukti-keberadaan-air-di-permukaan-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyingkap Rahasia Atmosfer Pluto</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 16:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[dwarf planet]]></category>
		<category><![CDATA[Pluto]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Pluto, yang yang berukuran sekitar seperlima ukuran Bumi, sebagian besarnya tersusun atas batuan dan es. Terletak sejauh 40 kali rata-rata jarak Bumi ke Matahari, Pluto adalah dunia yang sangat dingin dengan suhu permukaan mencapai -220 derajat Celcius.
Sejak dekade 1980-an telah diketahui bahwa Pluto memiliki atmosfer yang tipis yang didominasi oleh nitrogen dengan jejak metana dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pluto, yang yang berukuran sekitar seperlima ukuran Bumi, sebagian besarnya tersusun atas batuan dan es. Terletak sejauh 40 kali rata-rata jarak Bumi ke Matahari, Pluto adalah dunia yang sangat dingin dengan suhu permukaan mencapai -220 derajat Celcius.</p>
<p>Sejak dekade 1980-an telah diketahui bahwa Pluto memiliki atmosfer yang tipis yang didominasi oleh nitrogen dengan jejak metana dan kemungkinan karbon dioksida. Tekanan atmosfernya hanya sekitar seperseratus ribu tekanan atmosfer Bumi, atau sekitar 0.015 milibar.</p>
<p>Sampai baru-baru ini, hanya lapisan atas dari Atmosfer Pluto yang dapat dipelajari. Dengan mengamati okultasi bintang (ESO 21/22), fenomena yang terjadi apabila suatu anggota tata surya menghalangi cahaya sebuah bintang di latar belakang, para astronom berhasil menunjukkan bahwa lapisan atas dari atmosfer dari Pluto adalah berkisar -170 derajat Celcius, atau sekitar 50 derajat lebih hangat daripada suhu di permukaannya. Observasi ini dapat memberikan petunjuk mengenai temperatur dan tekanan atmosferik di dekat permukaan Pluto. </p>
<p>Namun uniknya, observasi terkini menggunakan perangkat <em>CRyogenic InfraRed Echelle Spectrograph</em> (CRIRES) yang terpasang pada <em>Very Large Telescope</em> milik <em>European Space Observatory</em> (ESO) kini telah mengungkapkan bahwa atmosfer Pluto secara keseluruhan, bukan hanya di lapisan atasnya, memiliki suhu rata-rata sekitar -180 derajat Celcius, dan dengan demikian “jauh lebih panas” daripada suhu permukaannya.</p>
<p>Berkebalikan dengan atmosfer Bumi, di Pluto temperatur justeru meningkat seiring bertambahnya ketinggian. Perubahan suhunya berkisar 3 hingga 15 derajat per kilometer. Di Bumi, dalam kondisi normal, temperatur berkurang sekitar 6 derajat setiap kilometer ketinggian. </p>
<p>Alasan mengapa permukaan Pluto sedemikian dingin berhubungan dengan eksistensi atmosfer Pluto, yakni karena terjadinya sublimasi es di permukaan; analog dengan keringat yang mendinginkan tubuh saat menguap dari permukaan kulit kita, sublimasi ini memiliki efek pendinginan pada permukaan Pluto. Dari segi ini, Pluto memiliki sifat yang sama dengan komet, dimana bagian coma dan ekornya juga terbentuk dari es yang menyublim saat komet mendekati Matahari.</p>
<p>Observasi menggunakan CRIRES juga mengindikasikan bahwa metana adalah gas paling berlimpah nomor dua di atmosfer Pluto, merepresentasikan setengah persen dari molekul-molekul yang ada. “Kami berhasil menunjukkan bahwa jumlah sebesar itu memainkan peranan penting dalam proses pemanasan di atmosfer dan dapat menjelaskan peningkatan suhu atmosferik,” jelas Emmanuel Lellouch, penulis utama makalah yang melaporkan penemuan ini.</p>
<p>“Menarik untuk dipikirkan bahwa dengan CRIRES kami dapat mengukur secara presisi jejak suatu gas dalam atmosfer 100.000 kali lebih tipis daripada di Bumi, pada objek yang lima kali lebih kecil dari planet kita dan terletak di tepi tata surya,” ungkap <em>co-author</em>, Hans-Ulrich Käufl. “Kombinasi CRIRES dan VLT adalah seperti memiliki satelit penelitian atmosfer yang mengorbit Pluto.”</p>
<p>Dua model yang berbeda dapat menjelaskan properti atmosfer Pluto. Dalam model pertama, para astronom mengasumsikan bahwa permukaan Pluto dilingkupi oleh lapisan tipis metana, yang menempati sublimasi bekuan nitrogen. Skenario kedua melibatkan keberadaan metana murni di permukaan Pluto. 	</p>
<p>Menentukan mana yang paling tepat diantara keduanya akan membutuhkan studi yang lebih intensif saat Pluto bergerak menjauh dari Matahari. “Dan tentu saja, wahana antariksa New Horizon milik NASA akan menyediakan lebih banyak petunjuk saat mencapai planet kerdil itu pada 2015 nanti,” tukas Lellouch.</p>
<p>Penemuan ini telah dilaporkan dalam jurnal <em>Astronomy and Astrophysics</em> pada Februari lalu dalam makalah berjudul <em>Pluto&#8217;s lower atmosphere structure and methane abundance from high-resolution spectroscopy and stellar occultations</em> oleh E. Lellouch et al. (<em>www.eso.org</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulsar Tua yang Masih Berpendar</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/03/01/pulsar-tua-yang-masih-berpendar/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/03/01/pulsar-tua-yang-masih-berpendar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 14:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[pulsar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Pulsar terisolasi yang tertua yang pernah terdeksi dalam panjang gelombang sinar-X telah ditemukan oleh observatorium sinar-X Chandra yang dioperasikan oleh NASA. Objek eksotis yang sangat tua ini secara mengejutkan ternyata masih aktif.
Pulsar PSR J0108-1431 (atau disingkat J0108 saja) diketahui berusia sekitar 200 juta tahun. Diantara pulsar yang terisolasi (pulsar yang bukan merupakan bagian dari sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pulsar terisolasi yang tertua yang pernah terdeksi dalam panjang gelombang sinar-X telah ditemukan oleh observatorium sinar-X Chandra yang dioperasikan oleh NASA. Objek eksotis yang sangat tua ini secara mengejutkan ternyata masih aktif.</p>
<p>Pulsar PSR J0108-1431 (atau disingkat J0108 saja) diketahui berusia sekitar 200 juta tahun. Diantara pulsar yang terisolasi (pulsar yang bukan merupakan bagian dari sistem biner) lainnya, usia pulsar ini lebih dari 10 kali lebih tua daripada pemegang rekor sebelumnya dalam deteksi sinar-X. Dengan jarak 770 tahun cahaya, pulsar ini juga merupakan salahsatu pulsar terdekat yang diketahui.</p>
<p>Pulsar terbentuk bilamana sebuah bintang yang jauh lebih masif daripada Matahari mengalami keruntuhan dalam ledakan supernova, meninggalkan sisa yang kecil namun berinti sangat masif, yang dikenal sebagai bintang neutron. Dalam kelahirannya, bintang neutron ini, yang tersusun atas material terpadat yang dikenal di jagat raya, berputar (berotasi) dengan sangat cepat, hingga ratusan kali putaran setiap detiknya. Seraya berputar, bintang tersebut memancarkan radiasi yang terlihat sebagai denyutan bagi pengamat di tempat yang jauh, analog dengan pancaran sinar dari sebuah mercusuar, yang dikenal dengan sebutan “pulsar”.</p>
<p>Para astronom mengamati perlambatan secara gradual dari rotasi pulsar seraya pulsar tersebut meradiasikan energinya. Observasi radio terhadap J0108 menunjukkan bahwa objek tersebut adalah pulsar tertua dan paling redup yang diketahui, berputar dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari satu putaran per detik.</p>
<p align=center><img src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2009/03/12544_web.jpg" alt="12544_web" title="12544_web" width="420" height="183"  /><br />
<em>Kiri: Citra komposit data sinar-X dari Chandra (ungu) dan emisi optikal dari Very Large Telescope (merah, putih dan biru.) terhadap J0108. Kanan: Ilustrasi artis mengenai penampakan J0108 apabila dilihat dari jarak dekat. (Gambar: X-ray: NASA/CXC/Penn State/G. Pavlov et al. Optical: ESO/VLT/UCL/R. Mignani et al. Illustration: CXC/M. Weiss)<br />
</em></p>
<p>Kejutan muncul ketuka tim astronom dibawah pimpinan George Pavlov dari <em>Penn State University</em> mengamati J0108 dalam panjang gelombang sinar-X menggunakan Chandra. Mereka menemukan bahwa pulsar tersebut berpendar lebih cemerlang dalam sinar-X daripada yang diharapkan dari pulsar setua itu.</p>
<p>Sebagian energi yang terlepas dari J0108 saat ia berputar makin pelan terkonversi dalam bentuk  radiasi sinar-X. Efisiensi dari proses ini untuk J0108 diketahui lebih tinggi daripada pulsar lain yang telah dikenal.</p>
<p>“Pulsar ini melepaskan radiasi berenergi tinggi jauh lebih efisien daripada saudaranya yang lebih muda,” jelas Pavlov. “Dengan demikian, walaupun pulsar tersebut meredup seiring dengan penuaannya, namun ia masih menyimpan material yang lebih banyak dibandingkan dengan generasi (pulsar) yang lebih muda.”</p>
<p>Kelihatannya ada dua jenis emisi sinar-X yang dipancarkan oleh J0108: emisi dari partikel yang berpilin di sekeliling medan magnet, dan emisi dari area yang terpanaskan di sekeliling kutub magnetik bintang neutron. Menentukan suhu dan ukuran dari daerah yang terpanaskan tersebut akan menyediakan informasi yang berharga mengenai sifat-sifat permukaan bintang neutron dan proses dimana partikel bermuatan diakselerasikan oleh pulsar.</p>
<p>Pulsar yang lebih muda dan cemerlang, yang biasanya dideteksi melalui teleskop radio dan sinar-X,  tidaklah mewakili keseluruhan populasi objek sejenisnya. Dengan demikian pengamatan terhadap objek semacam J0108 membantu para astronom untuk melihat sifat-sifat pulsar dalam rentang yang lebih lengkap. Karena usianya yang lebih tua, J0108 sudah mendekati apa yang disebut sebagai “garis kematian pulsar” (<em>pulsar death line</em>), dimana denyut radiasinya akan segera padam dan dengan demikian akan lebih sulit, atau bahkan mustahil untuk diamati.</p>
<p>“Kini kita dapat mengeksplorasi properti dari pulsar dalam keadaan dimana tidak ada pulsar lain yang pernah terdeteksi diluar rentang (panjang gelombang) radio,” tukas Oleg Kargaltsev dari <em>University of Florida</em>, <em>co-author</em> dari makalah yang memuat penemuan ini. “Untuk memahami properti dari pulsar yang tengah sekarat, sangat penting untuk mempelajari radiasinya dalam gelombang sinar-X. Penemuan kami bahwa sebuah pulsar yang sangat tua dapan menjadi pemancar sinar-X yang demikian efisien memberikan kami harapan untuk menemukan pulsar-pulsar dekat yang baru dari kelas ini melalui meisi sinar-X nya.</p>
<p>Observasi ini telah dilaporkan oleh Pavlov dan para koleganya pada 20 Januari 2009 dalam <em>Astrophysical Journal</em>. Namun demikian, sifat yang eksterem dari J0108 tidak terlihat secara penuh hingga besaran jarak yang baru ke objek ini dilaporkan pada 6 Februari lalu dalam sebuah tesis PhD oleh Adam Deller dari <em>Swinburne University</em>, Australia. Besaran jarak yang baru ini lebih besar dan lebih akurat daripada jarak yang dipakai dalam paper Chandra, menunjukkan bahwa J0108 lebih cemerlang dalam sinar-X daripada perkiraan sebelumnya.</p>
<p>“Dengan segera pulsar ini menjadi pemegang rekor untuk kemampuannya memproduksi sinar-X,” terang Pavlov, “dan hasil yang kami peroleh menjadi lebih menarik tanpa kami perlu melakukan lebih banyak kerja ekstra.”</p>
<p>Posisi dari pulsar seperti yang terlihat oleh Chandra dalam sinar-X pada awal 2007 sedikit berbeda dari posisi yang teramati dalam gelombang radio pada 2001. Hal ini mengimplikasikan bahwa pulsar tersebut bergerak dalam kecepatan sekitar 440.000 mil/jam (sekitar 708.000 km/jam), atau mendekati nilai tipikal sebuah pulsar.</p>
<p>Saat ini, pulsar tersebut bergerak ke arah selatan dari bidang galaksi Bima Sakti, namun dikarenakan kecepatan geraknya masih lebih kecil daripada kecepatan lolos (<em>escape velocity</em>) dari galaksi, pulsar tersebut sewaktu-waktu akan berbalik kembali menuju bidang galaksi pada arah yang berlawanan.</p>
<p>Deteksi terhadap pergerakan ini telah memungkinkan Roberto Mignani dari <em>University College London</em>, dalam kolaborasinya dengan Pavlov dan Kargaltsev, untuk mendeteksi J0108 dalam cahaya optikal, dengan memperkirakan dimana pulsar ini seharusnya dapat terlihat pada citra yang diambil pada tahun 2000. Studi dalam multi-panjang-gelombang dari pulsar berusia tua adalah hal yang kritikal untuk memahami evolusi jangka panjang dari bintang neutron, khususnya bagaimana bintang tersebut mendingin seiring berlalunya waktu, dan bagaimana medan magnetnya yang sangat kuat berevolusi. (<em>chandra.harvard.edu</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/03/01/pulsar-tua-yang-masih-berpendar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ledakan Sinar Gamma Terbesar</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/03/01/ledakan-sinar-gamma-terbesar/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/03/01/ledakan-sinar-gamma-terbesar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 12:25:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Teleskop antariksa sinar Gamma Fermi (Fermi Gamma-ray Space Telescope) baru-baru ini telah mendeteksi ledakan sinar gamma pertama dalam resolusi tinggi. Ledakan tersebut memiliki total energi terbesar, pergerakan tercepat, dan pelepasan energi tertinggi yang pernah terlihat. Ledakan  yang dirujuk sebagai GRB 080916C tersebut, terjadi pada pukul 19:13 EDT (15:13 GMT/22:13 WIB) tanggal 14 September 2008 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teleskop antariksa sinar Gamma Fermi (<em>Fermi Gamma-ray Space Telescope</em>) baru-baru ini telah mendeteksi ledakan sinar gamma pertama dalam resolusi tinggi. Ledakan tersebut memiliki total energi terbesar, pergerakan tercepat, dan pelepasan energi tertinggi yang pernah terlihat. Ledakan  yang dirujuk sebagai GRB 080916C tersebut, terjadi pada pukul 19:13 EDT (15:13 GMT/22:13 WIB) tanggal 14 September 2008 di konstelasi Carina. </p>
<p>Perangkat <em>Large Area Telescope</em> beserta <em>Gamma Ray Burst Monitor</em> pada teleskop Fermi secara simultan merekam peristiwa tersebut. Kedua instrumen tersebut menyediakan pandangan dari tahap awal ledakan, dikenal sebagai “prompt”, berupa pancaran sinar gamma dengan energi antara 3.000 hingga lebih dari 5 milyar kali dari yang dipancarkan dalam gelombang cahaya kasatmata.</p>
<p>Ledakan sinar gamma sendiri merupakan ledakan yang paling cemerlang di alam semesta. Para astronom meyakini bahwa kebanyakan ledakan semacam ini terjadi apabila sebuah bintang masif yang eksotik kehabisan bahan bakar nuklirnya. Saat inti bintang runtuh dalam bentuk lubang hitam, semburan material – yang disulut oleh proses yang belum sepenuhnya diketahui – terlepas ke antariksa dengan kelajuan mendekati kecepatan cahaya. Semburan tersebut memancar dari bintang yang sedang runtuh, dan berinteraksi dengan gas yang sebelumnya mengalir dari bintang dan menghasilkan kilatan cahaya terang yang kemudian perlahan memudar seiring berlalunya waktu.</p>
<p align=center><img src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2009/03/grb080916c.jpg" alt="grb080916c" title="grb080916c" width="400" height="396" /><br />
<em>Citra gabungan dari sisa ledakan GRB 080916C dalam panjang gelombang Ultra-Violet, Optikal dan sinar-X. Gambar diambil dengan Teleskop Sinar Gamma Swift. (Gambar: NASA/Swift/Stefan Immler)</em></p>
<p>Hampir 32 jam setelah ledakan, Jochen Greiner dari <em>Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics</em> di Garching, Jerman, memimpin sekelompok ilmuwan untuk mencari pendar cahaya sisa ledakan. Kelompok tersebut mengambil citra dalam tujuh panjang gelombang secara simultan menggunakan perangkat <em>Gamma-Ray Burst Optical/Near-Infrared Detector</em> (GROND) yang terpasang pada teleskop 2,2 meter di <em>European Southern Observatory</em> di La Silla, Chile. </p>
<p>Dalam warna-warni tertentu, kecerlangan dari objek jauh menunjukkan karakteristik memudar secara cepat (<em>drop-off</em>) yang diakibatkan oleh keberadaan kabut gas. Makin jauh suatu objek, panjang gelombang cahaya yang memudar tersebut makin bergeser ke warna merah. Hal ini memberikan petunjuk kepada para astronom untuk memperkirakan jarak objek tersebut. Observasi lanjutan akhirnya menunjukkan bahwa ledakan tersebut terjadi pada suatu tempat bejarak 12,2 miliar tahun cahaya dari Bumi. </p>
<p>Dengan berpatokan pada jarak itu, tim Fermi menunjukkan bahwa besarnya ledakan tersebut melampaui sekitar 9.000 kali besar ledakan supernova biasa, apabila energinya dipancarkan sama rata ke segala arah. Ini adalah cara standar bagi para astronom untuk membandingkan skala suatu peristiwa astronomis, walaupun kenyataannya ledakan sinar gamma memancarkan sebagian besar energinya dalam semburan yang sempit. Bersama dengan pengukuran dengan teleskop Fermi, besaran jarak ini juga membantu para astronom untuk menentukan kecepatan terendah yang mungkin untuk pelepasan material pada “prompt” sinar gamma. Dalam semburan ledakan tersebut, gas mestilah terlontar pada kecepatan 99.9999 persen dari kecepatan cahaya. Besarnya kekuatan dan kecepatan ledakan ini adalah yang paling ekstrim yang pernah tercatat hingga kini. </p>
<p>Salah satu aspek yang menarik dari ledakan ini ialah adanya selang waktu (<em>delay</em>) selama 5 detik antara pelepasan energi tertinggi dengan yang terendah. Hal semacam ini juga pernah teramati secara jelas dalam satu ledakan lainnya. Seperti dijelaskan oleh Peter Michelson, peneliti utama (<em>principal investigator</em>) pada <em>Fermi Large Area Telescope</em>, hal ini mungkin berarti bahwa pancaran energi tertinggi berasal dari bagian semburan yang berbeda, atau tercipta melalui mekanisme yang berbeda. </p>
<p>Makalah yang memuat hasil pengamatan ini telah diterbitkan pada 19 Februari 2009 melalui edisi online dari jurnal ilmiah <em>Nature</em>. (<em>www.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/03/01/ledakan-sinar-gamma-terbesar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Cincin, 26 Januari 2009</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/01/14/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/01/14/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 15:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[eclipse]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Gerhana matahari pertama pada 2009 akan berlangsung pada 26 Januari 2009 mendatang. Gerhana matahari cincin akan melintasi Sepertiga benua Afrika bagian selatan, terus ke Madagaskar, Australia (kecuali Tasmania), India bagian tenggara, Asia tenggara, dan Indonesia.
Fase gerhana berawal saat bayangan antumbral Bulan mulai menyapu samudera Atlantik Selatan pada pukul 06:06 UT (13:06 WIB) pada koridor selebar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gerhana matahari pertama pada 2009 akan berlangsung pada 26 Januari 2009 mendatang. Gerhana matahari cincin akan melintasi Sepertiga benua Afrika bagian selatan, terus ke Madagaskar, Australia (kecuali Tasmania), India bagian tenggara, Asia tenggara, dan Indonesia.</p>
<p>Fase gerhana berawal saat bayangan antumbral Bulan mulai menyapu samudera Atlantik Selatan pada pukul 06:06 UT (13:06 WIB) pada koridor selebar 363 kilometer. Bergerak ke arah timur, bayangan Bulan selanjutnya akan melewati benua Afrika bagian Selatan hingga samudera Hindia Selatan. Puncak gerhana terjadi pada pukul 07:58:39 UT (14:58:39 WIB) dimana gerhana mencapai magnitud 0.9282. Fase ini berlangsung selama 7 menit 54 detik meliputi daerah selebar 280 km saat matahari mencapai ketinggian 73° diatas horizon. </p>
<p>Selepas itu, gerhana akan bergerak ke arah timur laut, melewati kepulauan Cocos (<em>Cocos Islands</em>) menuju Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian Barat, dan selanjutnya melintasi Kalimantan bagian Tengah dan sebagian kecil Sulawesi bagian barat laut sebelum berakhir di sekitar pulau Mindanao, Filipina pada 09:52 UT (16:52 WIB).</p>
<p>Selama 3 jam 45 menit fase gerhana, antumbra Bulan melintas sejauh sekitar 14.500 km, meliputi 0,9% permukaan planet Bumi. Tabel Urut-urutan fase gerhana untuk sejumlah kota yang dilewati gerhana dapat dilihat <a href=http://eclipse.gsfc.nasa.gov/OH/OHtables/OH2009-Tab02.pdf>di sini</a>. Semua waktu dalam UT. Tambahkan 7 jam untuk mengkonversi ke WIB. (<em>eclipse.gsfc.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/01/14/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karbon Dioksida di Planet Ekstrasolar</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/12/24/karbon-dioksida-di-planet-ekstrasolar/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/12/24/karbon-dioksida-di-planet-ekstrasolar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 16:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[exoplanet]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Para peneliti yang memanfaatkan teleskop Antariksa Hubble yang dioperasikan NASA/ESA telah menemukan karbon dioksida pada atmosfer sebuah planet yang mengorbit bintang lain. Ini adalah langkah penting dalam upaya untuk menemukan jejak kimiawi yang mengarah kepada kehidupan ekstraterestrial. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam Astrophysical Journal Letters pada 9 Desember 2008.
Planet seukuran Jupiter, yang dikenal sebagai HD [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para peneliti yang memanfaatkan teleskop Antariksa Hubble yang dioperasikan NASA/ESA telah menemukan karbon dioksida pada atmosfer sebuah planet yang mengorbit bintang lain. Ini adalah langkah penting dalam upaya untuk menemukan jejak kimiawi yang mengarah kepada kehidupan ekstraterestrial. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam <em>Astrophysical Journal Letters</em> pada 9 Desember 2008.</p>
<p>Planet seukuran Jupiter, yang dikenal sebagai HD 189733b, terlalu panas untuk mendukung kehidupan. Namun observasi Hubble mengajukan bukti terhadap konsep bahwa komponen kimia dasar untuk kehidupan dapat dideksi pada planet yang mengorbit bintang lain. Kandungan organik dapat juga merupakan produk dari proses kehidupan dan keberadaannya di planet yang mirip Bumi suatu saat dapat menyediakan bukti pertama mengenai keberadaan kehidupan di luar Bumi.</p>
<p>Observasi sebelumnya terhadap HD 189733b oleh Hubble dan teleskop antariksa Spitzer telah mendeteksi adanya uap air, sementara di awal tahun ini Hubble telah menemukan metana pada atmosfer planet tersebut.</p>
<p>“Hal ini menarik karena Hubble telah memungkinkan kita melihat molekul-molekul yang menjejak kondisi, kandungan kima, dan komposisi atmosfer di planet lain,” jelas Mark Swain dari <em>Jet Propulsion Laboratory</em> di Pasadena, AS. “Berkat Hubble, kini kita telah memasuki era dimana kita akan melaju pesat dalam upaya menambah jumlah molekul yang kita ketahui di planet lain.”</p>
<p>Swain dan timnya menggunakan perangkat <em>Near Infrared Camera</em> dan <em>Multi-Object Spectrometer</em> (NICMOS) pada Hubble untuk mempelajari berkas cahaya inframerah yang dipancarkan oleh planet tersebut, yang terletak sejauh 63 tahun cahaya. Gas pada atmosfer planet menyerap cahaya dengan panjang gelombang tertentu dari interior planet yang berpijar panas. Mereka mengidentifikasi tidak hanya karbon dioksida, namun juga karbon monoksida. Molekul-molekul tersebut meninggalkan sidik jari spektralnya yang unik dalam radiasi dari planet yang mencapai Bumi. Ini adalah untuk pertama kalinya emisi spektrum <em>near-infrared</em> berhasil didapat dari sebuah planet ekstrasolar.</p>
<p>“Karbon dioksida adalah salah satu fokus yang menggairahkan, karena ini adalah molekul yang apabila berada pada kondisi yang sesuai dapat berhubungan dengan aktifitas biologis seperti yang terjadi di Bumi,” tambah Swain. “Fakta bahwa kami dapat mendeteksinya, dan memperkirakan kelimpahannya, adalah hal yang signifikan dalam upaya jangka panjang untuk mengkarakterisasi planet-planet, baik untuk menentukan bagaimana terbentuknya, maupun apakah planet tersebut dapat menyimpan suatu bentuk kehidupan.”</p>
<p><em>Co-researcher</em> dari dari University College, London, Dr. Giovanna Tinetti menerangkan bahwa,  “Pada planet-planet terestrial di tata surya kita, CO2 memainkan peranan penting dalam stabilitas iklim. Di Bumi, CO2 adalah salah satu bahan baku fotosintesis dan elemen kunci dalam siklus karbon. Observasi kami merepresentasikan kesempatan besar untuk memahami peranan CO2 di atmosfer planet bergas-panas dan beradiasi tinggi.</p>
<p>Observasi jenis ini paling baik dilakukan planet yang mengorbit tegak lurus terhadap Bumi. Planet-planet tersebut secara teratur melintas di depan dan kemudian di belakang bintang induknya (disebut sebagai gerhana). Planet HD 189733b melintas di belakang bintang induknya sekali setiap 2.2 hari. Ini menyediakan kesempatan untuk meneliti berkas cahaya bintang secara tersendiri (saat planet tertutupi) dan dari bintang dan planet secara bersamaan setelah gerhana. Dengan demikian, para astronom dapat mengisolasi emisi dari planet dan membuat analisis kimia yang mungkin dari atmosfer “siang hari&#8221; disana.</p>
<p>Dengan cara ini, Swain menjelaskan bahwa ia menggunakan saat gerhana, dimana planet berada dibelakan bintangnya untuk menjejak kondisi planet pada siang hari, yang mengandung bagian terpanas di atmiosfernya. “Kami mulai mencari molekul-molekul dan menentukan seberapa banyak diantaranya yang terlihat berubah antara sisi siang dan sisi malam,” tambah Swain.</p>
<p>Demonstrasi yang sukses terhadap pengamatan dengan panjang gelombang <em>near-infrared</em> yang dipancarkan dari sebuah planet tersebut telah membawa para astronom untuk merencanakan pemakaian teleskop antariksa James Webb (<em>James Webb Space Telescope</em>, JWST) yang akan diluncurkan pada tahun 2013 mendatang. Seperti diketahui, penanda biologis (<em>biomarker</em>) terlihat paling jelas dalam panjang gelombang <em>near-infrared</em>.</p>
<p>Para astronom berencana untuk menggunakan JWST untuk secara spektroskopis melihat keberadaan <em>biomarker</em> di planet terestrial seukuran Bumi, atau “Bumi Super” yang bermassa beberapa kali lebih besar dari Bumi. “Teleskop Webb akan mampu melakukan pengukuran yang lebih sensitif terhadap peristiwa gerhana primer dan sekunder,” tambah Swain.</p>
<p>Rencana Swain berikutnya adalah untuk mencari molekul-molekul di atmosfer planet ekstrasolar lainnya, dan mencoba meningkatkan jumlah molekul yang terdeteksi pada atmosfer planet ekstrasolar. Ia juga berencana akan memanfaatkan molekul-molekul tersebut untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada atmosfer planet ekstrasolar guna mempelajari hal-hal terkait kondisi cuaca di dunia yang jauh itu. (<em>www.scitech.ac.uk</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/12/24/karbon-dioksida-di-planet-ekstrasolar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Winter Solstice, 21 Desember 2008</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/12/16/winter-solstice-21-desember-2008/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/12/16/winter-solstice-21-desember-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 16:25:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[solstice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Matahari akan kembali mencapai titik balik musim dingin (Winter Solstice) pada 21 Desember 2008 pukur 12:05 UT (19:05 WIB). Peristiwa ini menandai hari pertama musim dingin (winter) di belahan bumi utara, dan musim panas (summer) belahan selatan. Saat itu, matahari akan mencapai titik paling selatan (dikenal sebagai Tropic of Capricorn) sebelum akhirnya kembali bergerak ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari akan kembali mencapai titik balik musim dingin (<em>Winter Solstice</em>) pada 21 Desember 2008 pukur 12:05 UT (19:05 WIB). Peristiwa ini menandai hari pertama musim dingin (<em>winter</em>) di belahan bumi utara, dan musim panas (<em>summer</em>) belahan selatan. Saat itu, matahari akan mencapai titik paling selatan (dikenal sebagai <em>Tropic of Capricorn</em>) sebelum akhirnya kembali bergerak ke utara. </p>
<p>Peralihan musim ke musim dingin menandai hari terpendek dalam satu tahun, dalam artian siang terpendek dan malam terpanjang pada hemisfer. Sebaliknya peralihan ke musim panas sekaligus merupakan hari terpanjang, dalam artian siang terpanjang dan malam terpendek. Fenomena ini disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, yang besarnya 23.5 derajat, sehingga dalam peredarannya mengelilingi matahari, baik belahan Bumi utara maupun selatan secara bergantian akan menerima pajanan sinar matahari langsung lebih besar dibandingkan hemisfer sebaliknya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/12/16/winter-solstice-21-desember-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerdil Putih Terpanas di Kelasnya</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/12/14/kerdil-putih-terpanas-di-kelasnya/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/12/14/kerdil-putih-terpanas-di-kelasnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 16:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[star]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal Astronomy &#038; Astrophysics telah mempublikasikan hasil observasi spektroskopis menggunakan satelit Far-Ultraviolet Spectroscopic Explorer (FUSE) milik NASA terhadap bintang kerdil putih (white dwarf) KPD 0005+5106. 
Tim yang beranggotakan para astronom berkebangsaan Jerman dan Amerika Serikat yang melakukan observasi ini menunjukkan bahwa bintang kerdil putih tersebut adalah dari jenis yang terpanas yang diketahui sejauh ini, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jurnal <em>Astronomy &#038; Astrophysics</em> telah mempublikasikan hasil observasi spektroskopis menggunakan satelit <em>Far-Ultraviolet Spectroscopic Explorer</em> (FUSE) milik NASA terhadap bintang kerdil putih (<em>white dwarf</em>) KPD 0005+5106. </p>
<p>Tim yang beranggotakan para astronom berkebangsaan Jerman dan Amerika Serikat yang melakukan observasi ini menunjukkan bahwa bintang kerdil putih tersebut adalah dari jenis yang terpanas yang diketahui sejauh ini, dengan suhu mencapai 200.000 Kelvin pada permukaannya. Sedemikian panasnya hingga fotosfernya menunjukkan garis-garis emisi dalam spektrum ultraviolet &#8212; fenomena yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Emisi tersebut berasal dari kalsium yang sangat terionisasi, yang merupakan tingkat ionisasi tertinggi dari elemen kimia yang pernah ditemui dalam spektrum fotosfer bintang.</p>
<p>Bintang dengan massa menengah (1-8 kali massa matahari) mengakhiri hidupnya sebagai bintang kerdil putik seukuran Bumi setelah menghabiskan seluruh bahan bakar nuklirnya. Selama masa transisi antara sebagai bintang yang membakar persediaan nuklirnya hingga menjadi kerdil putih, bintang akan menjadi sangat panas. Banyak diantara objek-objek semacam itu dengan temperatur permukaan sekitar 100.000 K kini telah dikenali. Teori mengenai evolusi bintang memprediksi bahwa bintang-bintang semacam itu dapat jauh lebih panas. Namun demikian, peluang untuk dapat mengamati bintang dalalam keadaan sedemikian panas sangat tipis, karena fase ini hanya berlangsung dalam waktu yang singkat.</p>
<p>Sejak ditemukan sebagai sebuah bintang biru redup pada 1985, KPD 0005+5106 telah menarik banyak perhatian dikarenakan spektrum optik yang diambil menggunakan teleskop berbasis darat menunjukkan bahwa bintang kerdil putih ini memiliki suhu yang teramat panas. Bintang tersebut telah dikelompokkan kedalam kelas khusus yang beranggotakan bintang-bintang kerdil putih yang langka, dimana atmosfernya didominasi oleh helium. Analisis yang lebih mendetail dari spektra tersebut, dikombinasikan dengan observasi ultraviolet yang dilakukan oleh teleskop antariksa Hubble memberikan kesimpulan bahwa KPD 0005+5106 memiliki temperatur sekitar 120.000 Kelvin, yang membuatnya menjadi anggota terpanas dari kelasnya. Bintang tersebut telah memiliki “rival” yang sama panasnya, sebuah bintang kerdil putih panas yang ditemukan beberapa tahun lalu oleh Sloan Digital Sky Survey.</p>
<p>Observasi dengan FUSE dilakukan dengan spektroskopi pada panjang gelombang <em>far-ultraviolet</em>, yang tidak dapat dilakukan oleh HST. Selama masa operasionalnya (1999-2007), FUSE secara teratur mengobservasi KPD 0005+5106 dikarenakan bintang tersebut digunakan sebagai target kalibrasi untuk menguji performa teleskopnya. Sekelompok astronom, diantaranya K. Werner, T. Rauch, dan J.W. Kruk, memanfaatkan semua data yang terkumpul untuk membuat <em>datasheet</em> dengan kualitas yang sangat baik. Pengamatan yang lebih teliti mengungkapkan keberadaan dua garis emisi dari kalsium, dan permodelan atmosfer bintang yang terperinci mengkonfirmasikan bahwa garis emisi tersebut berasal dari daerah fotosfer. Analisis tersebut membuktikan bahwa temperatur bintang tersebut haruslah berkisar 200.000 Kelvin agar dapat memancarkan garis emisi semacam itu.</p>
<p>Walaupun teori telah memprediksikan keberadaan bintang kerdil putih yang panas semacam itu, namun demikian komposisi bintang tersebut merupakan sebuah tantangan terhadap konsep kita mengenai evolusi bintang. Kelimpahan kalsium yang terukur (1-10 kali kelimpahan pada matahari) dikombinasikan sifat atmosfer yang kaya akan helium merepresentasikan komposisi kimia yang tidak diprediksi oleh model evolusi bintang. (<em>aanda.org</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/12/14/kerdil-putih-terpanas-di-kelasnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
