<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Astronomi &#187; probe</title>
	<atom:link href="http://ias.dhani.org/tag/probe/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ias.dhani.org</link>
	<description>Berita dan Peristiwa Seputar Antariksa</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Oct 2009 00:58:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Phoenix Mendarat di Permukaan Mars</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/05/26/phoenix-mendarat-di-permukaan-mars/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/05/26/phoenix-mendarat-di-permukaan-mars/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 16:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 10 bulan, melintasi jarak 422 juta mil, wahana pendarat Phoenix yang dioperasikan NASA akhirnya berhasil mendarat di lingkaran kutub utara Mars. Phoenix mendarat pada Senin pagi, 26 Mei waktu Indonesia. Sinyal radio yang diterima pada 25 Mei pukul 16:53:44 Waktu Pasifik (26 Mei, 06:53:44 WIB) menunjukkan bahwa wahana tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 10 bulan, melintasi jarak 422 juta mil, wahana pendarat Phoenix yang dioperasikan NASA akhirnya berhasil mendarat di lingkaran kutub utara Mars. Phoenix mendarat pada Senin pagi, 26 Mei waktu Indonesia.</p>
<p>Sinyal radio yang diterima pada 25 Mei pukul 16:53:44 Waktu Pasifik (26 Mei, 06:53:44 WIB) menunjukkan bahwa wahana tersebut berhasil bertahan dalam proses pendaratan yang sulit dan berbahaya, dan telah menyentuh permukaan Mars 15 menit sebelum sinyal diterima. <span id="more-204"></span>Selisih waktu tersebut adalah saat yang dibutuhkan sinyal dari wahana tersebut untuk melaju dengan kecepatan cahaya menuju Bumi. Konfirmasi ini disambut sorak sorai oleh para anggota tim di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, <em>Lockheed Martin Space Systems</em> di Denver, dan di <em>University of Arizona</em>.</p>
<p>Citra pertama yang diterima dari Phoenix setelah mendarat adalah gambar panel surya wahana tersebut. Citra ini digunakan para pengendali di Bumi untuk memastikan panel surya telah mengembang secara sempurna. Gambar permukaan yang diterima selanjutnya menunjukkan daerah yang relatif datar dengan hanya sedikit bebatuan dan tidak didapati adanya es.</p>
<p align="center"><img class="alignnone size-full wp-image-206" title="phx-landscape-226" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/05/raw-solarpanel-226.jpg" alt="" /> <img class="alignnone size-full wp-image-206" title="phx-landscape-226" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/05/phx-landscape-226.jpg" alt="" /><br />
<em>Citra panel surya Phoenix (kiri) dan pemandangan di lokasi pendaratan (kanan)<br />
(Gambar: NASA)</em></p>
<p>Dalam misi yang direncanakan berlangsung selama 3 bulan kedepan, Phoenix akan mempelajari lapisan es yang ada dibawah permukaan tanah di planet merah tersebut. Wahana ini membawa instrumen ilmiah khusus untuk menganalisis apakah lapisan es tersebut di suatu waktu pernah meleleh dan apakah terdapat bahan kimia organik pada lapisan tanah beku di Mars. Keduanya adalah pertanyaan kunci dalam mengevaluasi apakah lingkungan Mars pernah mendukung bentuk kehidupan mikrobial.</p>
<p>Phoenix dikembangkan berdasarkan wahana yang semula direncanakan untuk dikirim pada 2001, namun kemudian dibatalkan menyusul kegagalan pendaratan wahana serupa pada 1999. Para peneliti yang mengusulkan misi Phoenix pada 2002 melihat wahana yang tak terpakai itu sebagai suatu kesempatan ilmiah. Sebelumnya, di tahun yang sama, wahana Mars Odyssey menemukan sejumlah besar es air yang tersimpan dibawah permukaan pada darah lintang tinggi di Mars. NASA kemudian memilih proposal Phoenix diantara 24 proposal lain sebagai misi lanjutan ke Mars.</p>
<p>Phoenix juga akan mempelajari aspek lainnya dari tanah dan atmosfer Mars menggunakan kemampuan peralatan yang belum pernah digunakan sebelumnya, termasuk seperangkat stasiun cuaca yang dibuat di Canada. (<em>mars.jpl.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/05/26/phoenix-mendarat-di-permukaan-mars/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misi Ulysses Mendekati Akhir</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/02/28/misi-ulysses-mendekati-akhir/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/02/28/misi-ulysses-mendekati-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 11:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/2008/02/28/misi-ulysses-mendekati-akhir/</guid>
		<description><![CDATA[Ulysses, misi wahana antariksa yang bertujuan mempelajari kutub Matahari dan pengaruh Matahari terhadap lingkungan sekitarnya kini mendekati akhir. Setelah lebih dari 17 tahun di antariksa &#8212; hampir empat kali lebih lama daripada waktu yang direncanakan &#8212; misi ini akhirnya menghadapi situasi sulit yang mengharuskannya untuk berhenti bekerja suatu waktu dalam satu atau dua bulan kedepan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulysses, misi wahana antariksa yang bertujuan mempelajari kutub Matahari dan pengaruh Matahari terhadap lingkungan sekitarnya kini mendekati akhir. Setelah lebih dari 17 tahun di antariksa &#8212; hampir empat kali lebih lama daripada waktu yang direncanakan &#8212; misi ini akhirnya menghadapi situasi sulit yang mengharuskannya untuk berhenti bekerja suatu waktu dalam satu atau dua bulan kedepan.</p>
<p>Ulysses adalah misi gabungan antara badan ruang angkasa Eropa, ESA, dan badang ruang angkasa Amerika Serikat, NASA. Wahana ini diluncurkan pada 1990 dengan menggunakan pesawat ulang-alik, dengan misi utama untuk mempelajari lingkungan antariksa, diatas dan dibawah kutub Matahari. <span id="more-181"></span>Sejumlah besar data dari Ulysses telah mengubah pandangan para ilmuwan untuk selamanya mengenai Matahari dan pengaruhnya terhadap lingkungan di sekelilingnya.</p>
<p>Ulysses saat ini sedang mengorbit di sekeliling Matahari dalam periode 6 tahun. Dalam garis orbitnya yang panjang itu, Ulysses akan mencapai orbit Jupiter dan kembali lagi mendekati Matahari. Makin jauh dari Matahari, wahana tersebut akan makin dingin. Apabila suhunya turun hingga mencapai 2ÂºC, maka bahan bakar Hidrazin yang dibawanya akan membeku.</p>
<p><center><img src='http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/02/ulysses_hat-trick_l.jpg' alt='ulysses_hat-trick_l.jpg' /><br />
<em>Wahana Ulysses (Gambar: ESA)</em></center></p>
<p>Tadinya hal ini bukan masalah, karena Ulysses juga memnbawa pemanas untuk menjaga suhunya agar tetap sesuai untuk bekerja. Wahana itu mendapat daya listrik dari peluruhan isotop radioaktif, dan selama lebih dari 17 tahun, perlahan namun pasti daya yang dicatu terus menurun. Kini, wahana tersebut tidak memiliki cukup daya listrik untuk menjalankan semua fungsi komunikasi dan perlatan ilmiah secara simultan.</p>
<p>Dalam waktu dekat wahana ini akan mencapai suhu 2ÂºC. Hal ini akan mengakibatkan penyumbatan pada pipa bahan bakar, dan membuat wahana itu tidak dapat bermanuver. </p>
<p>Dalam usaha mengatasi masalah ini, tim gabungan NASA-ESA telah menyetujui rencana mematikan untuk sementara pemancar utama Ulysses. Ini akan melepaskan daya listrik sebesar 60 watt, yang dapat dibagi untuk instrumen ilmiah dan pemanas. Saat harus mengirimkan data ke Bumi, mereka berencana untuk kembali menghidupkan pemancar. Sayangnya, saat cara ini dicoba untuk pertama kalinya pada Januari lalu, perangkat catu daya (<em>power supply</em>) gagal untuk menghidupkan kembali pemancar.</p>
<p>Setelah berkali-kali mencoba, tim proyek Ulysses berkesimpulan bahwa sangat tidak mungkin untuk bisa menghidupkan kembali pemancar X-band pada wahana itu. Mereka yakin bahwa masalahnya ada pada perangkat catu daya, yang berarti bahwa daya listrik tambahan yang diharapkan sama sekali tidak dapat dialihkan untuk menghidupkan pemanas dan instrumen sains.</p>
<p>Dengan demikian, wahana tersebut praktis kehilangan kemampuan untuk mengirimkan data ilmiah berukuran besar ke Bumi, dan secara perlahan mengalami pembekuan pada saluran bahan bakarnya. Ini berarti akhir dari misi tersebut. Hal ini diperkirakan akan terjadi pada satu atau dua bulan mendatang. Namun tim Ulysses berencana untuk meneruskan operasional wahana tersebut dengan kapasitas yang dikurangi selama masih dimungkinkan. (<em>www.esa.int</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/02/28/misi-ulysses-mendekati-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misi Rover Mars Kembali Diperpanjang</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/10/20/misi-rover-mars-kembali-diperpanjang/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/10/20/misi-rover-mars-kembali-diperpanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 05:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/2007/10/14/misi-rover-mars-kembali-diperpanjang/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kelima kalinya, NASA memperpanjang aktivitas rover eksplorasi Mars, Spirit dan Opportunity. Keputusan ini memungkinkan kedua rover yang kini berada pada dua sisi berlawanan di permukaan Mars ini untuk tetap bekerja, kemungkinan hingga tahun 2009. Perpanjangan misi ini, bersama aktivitas penelitian terkait bergantung pada kelangsungan produktivitas dan operasionalitas kedua rover tersebut. Kedua rover kembar itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk kelima kalinya, NASA memperpanjang aktivitas rover eksplorasi Mars, Spirit dan Opportunity. Keputusan ini memungkinkan kedua rover yang kini berada pada dua sisi berlawanan di permukaan Mars ini untuk tetap bekerja, kemungkinan hingga tahun 2009. Perpanjangan misi ini, bersama aktivitas penelitian terkait bergantung pada kelangsungan produktivitas dan operasionalitas kedua rover tersebut.</p>
<p>Kedua rover kembar itu mendarat di permukaan Mars pada 45 bulan lalu, dalam misi yang semula direncanakan hanya berlangsung selama 90 hari.<span id="more-152"></span> Pada bulan September lalu, Opportunity mulai menuruni kawah Victoria di daerah Meridiani Planum. Kawah selebar setengah mil dengan kedalaman 230 kaki ini adalah kawah terbesar yang pernah didatangi rover tersebut. Sementara itu, Spirit tengah mendaki pada sebuah dataran vulkanis di sebuah lembah pada jarak horison dari lokasi pendaratan.</p>
<p>&#8220;Setelah lebih dari tiga setengah tahun beroperasi, Spirit dan Opportunity mulain menunjukkan tanda-tanda penuaan, namun keduanya masih dalam kondisi yang baik dan mampu melakukan tugas-tugas  ilmiah,&#8221; demikian menurut John Callas, manajer proyek rover di <i>Jet Propulsion Laboratory</i> NASA di Pasadena, California. </p>
<p>Masing-masing rover diperlengkapi dengan instrumen canggih untuk mempelajari geologi Mars dalam rangka menemukan informasi mengenai kondisi lingkungan disana pada masa lampau. Opportunity telah mengirimkan bukti yang dramatis bahwa area tempatnya selama ini bekerja, pada masa lalu pernah menjadi tempat yang cukup basah dan mungkin dapat mendukung bentuk kehidupan mikrobial. Di sisi lain, Spirit telah menemukan bukti pada daerah yang diekpslorasi bahwa air dalam bentuk tertentu telah mempengaruhi komposisi mineral pada sebagian tanah dan batuan disana. </p>
<p>Hingga kini, Spirit telah bergerak sejauh 4,51 mil dan telah mengirimkan lebih dari 102.000 citra permukaan mars. Sementara itu, Opportunity telah bergerak sejauh 7,19 mil dan mengirimkan lebih dari 94.000 citra (<i>mars.jpl.nasa.gov</i>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/10/20/misi-rover-mars-kembali-diperpanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rover Mars Siap Kembali Bekerja</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/09/10/rover-mars-siap-kembali-bekerja/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/09/10/rover-mars-siap-kembali-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Sep 2007 15:35:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/2007/09/10/rover-mars-siap-kembali-bekerja/</guid>
		<description><![CDATA[Dua bulan setelah langit gelap akibat sejumlah badai debu hampir mematikan wahana Mars Exploration Rovers milik NASA, kedua robot bertenaga matahari tersebut kini siap melanjutkan misi mereka. Rencana untuk membawa rover Opportunity menuruni kawah raksasa Victoria sempat tertunda, namun rover tersebut kini bersiap untuk memasuki kawah berdiameter setengah mil itu secepat-cepatnya pada 11 September mendatang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua bulan setelah langit gelap akibat sejumlah badai debu hampir mematikan wahana Mars Exploration Rovers milik NASA, kedua robot bertenaga matahari tersebut kini siap melanjutkan misi mereka. Rencana untuk membawa rover Opportunity menuruni kawah raksasa Victoria sempat tertunda, namun rover tersebut kini bersiap untuk memasuki kawah berdiameter setengah mil itu secepat-cepatnya pada 11 September mendatang. </p>
<p>Sementara itu, kembaran Opportunity, Spirit, juga telah bertahan dari badai debu global di Mars. Kedua rover tersebut telah menjalani misi selama 43 bulan, jauh lebih lama dari rencana semula yang hanya selama 3 bulan. Pada 5 September, Spirit mendaki menuju tujuan jangka panjangnya, suatu daerah yang dinamai Home Plate, berupa dataran yang terdiri dari lapisan bebatuan yang berisi petunjuk suatu campuran eksplosif dari lava dan air.</p>
<p>Badai debu Mars pada Juli lalu menutupi sebagian besar sinar matahari yang merupakan sumber energi bagi kedua rover tersebut. Semula dikhawatirkan bahwa pasokan energi yang diterima akan terlalu sedikit dari yang diperlukan untuk bertahan. Para teknisi di <i>Jet Propulsion Laboratory</i>, NASA, di Pasadena, California, berusaha menyiasati dengan tidak melakukan pergerakan, sangat sedikit melakukan observasi, dan mengurangi komunikasi dengan Bumi. Langit diatas kedua rover saat ini masih berdebu, namun telah berangsur cerah sejak awal Agustus.</p>
<p>Debu dari angkasa Mars telah menghujani panel surya pada kedua rover sehingga mengurangi kemampuannya untuk mengumpulkan energi dari Matahari. Namun demikian, sebagian diantaranya telah tersapu oleh tiupan angin sebelum sempat menumpuk.</p>
<p>Opportunity telah diarahkan menuju bibir kawah Victoria pada akhir Agustus dan mempelajari rute yang mungkin diambil untuk memasuki kawah tersebut. Minggu ini, Opportunity telah bergerak sejauh sekitar 130 kaki menuju jalan masuk yang direncanakan. Rute ini akan menyediakan akses yang lebih baik menuju target dengan prioritas tinggi didalam kawah: sekumpulan batuan berwarna terang sekitar 40 kaki dari pinggir kawah. Para ahli memperkirakan bahwa batuan tersebut menyimpan bukti interaksi antara atmosfer mars dan permukaannya dari jutaan tahun lalu, saat kondisi atmosfer disana mungkin berbeda dengan yang sekarang. Victoria adalah kawah terbesar yang pernah dikunjungi oleh Opportunity.</p>
<p>Tim rover juga berencana untuk memeriksa sekiranya debu telah mengakibatkan kerusakan pada perangkat pencitraan mikroskopis (<i>microscopic imager</i>) pada rover Opportunity. Apabila peralatan tersebut masih berfungsi, maka mereka akan menggunakannya untuk memeriksa, apakakah cermin pemindai (<i>scanning mirror</i>) pada perangkat <i>miniature thermal emission spectrometer</i> (Mini-TES) dapat berfungsi secara akurat. Cermin ini terletak tinggi diatas tiang antena rover. Cermin tersebut berfungsi memantulkan sinar inframerah dari permukaan ke arah spektrometer dibawah antena, dan juga dapat diposisikan untuk menutupi sebuah lubang pada antena untuk melindunginya dari debu. Saat terakhir kali perangkat spektrometer digunakan, sebagian dari data yang dikirim menujukkan bahwa instrumen tersebut mungkin telah memperlihatkan bagian dalam antena dan bukannya permukaan Mars.</p>
<p>Sekiranya pelindung debu atau cermin itu tidak lagi bisa bergerak sebagaimana mestinya, para ilmuwan akan kehilangan kemampuan untuk menggunakan instrumen Mini-TES pada Opportunity. Apabila hal ini terjadi, maka ini akan menjadi kerusakan permanen pertama yang dialami pada kedua rover tersebut. Namun kerusakan tersebut saat ini masih belum bisa dipastikan. Instrumen tersebut selama ini telah mengirimkan sejumlah besar informasi berharga mengenai batuan dan tanah di dataran Meridiani, dimana Opportunity selama ini bekerja. (<i>mars.jpl.nasa.gov</i>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/09/10/rover-mars-siap-kembali-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Baru untuk Wahana Veteran</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/07/21/tugas-baru-untuk-wahana-veteran/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/07/21/tugas-baru-untuk-wahana-veteran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2007 15:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[comet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/2007/07/21/tugas-baru-untuk-wahana-veteran/</guid>
		<description><![CDATA[Dua wahana antariksa NASA kini memperoleh tugas baru setelah sukses menyelesaikan misinya. Wahana Stardust dan Deep Impact akan melakukan observasi terhadap komet serta melakukan pencarian terhadap planet ekstrasolar. Kedua wahana tersebut akan melakukan menggunakan peralatan yang telah teruji selama ini untuk melakukan misi investigasi baru yang sebelumnya tidak direncanakan. Sebuah misi gabungan yang dinamai EPOXI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua wahana antariksa NASA kini memperoleh tugas baru setelah sukses menyelesaikan misinya. Wahana <a href= http://stardust.jpl.nasa.gov/home/index.html>Stardust</a> dan <a href= http://stardust.jpl.nasa.gov/home/index.html>Deep Impact</a> akan melakukan observasi terhadap komet serta melakukan pencarian terhadap planet ekstrasolar. Kedua wahana tersebut akan melakukan menggunakan peralatan yang telah teruji selama ini untuk melakukan misi investigasi baru yang sebelumnya tidak direncanakan. </p>
<p>Sebuah misi gabungan yang dinamai EPOXI (<I>Extrasolar Planet Observation and Deep Impact Extended Investigation</i>) akan dijalankan oleh wahana Deep Impact, yang telah menyelesaikan misi utamanya tahun 2005 lalu. Misi ini terdiri atas dua bagian, yakni <i>Deep Impact Extended Investigation</i> (DIXI) dan <i>Extrasolar Planet Observation and Characterization</i> (EPOCh).</p>
<p>Misi DIXI akan mencakup perlintasan dengan komet Boethin, yang hingga kini belum pernah diselidiki. Komet Boethin adalah komet kecil dengan periode pendek yang secara teratur melintasi tata surya bagian dalam. Misi ini diharapkan dapat memulihkan kehilangan yang dialami sains akibat gagalnya misi <i>COmet Nucleus Tour</i> (CONTOUR) pada 2002 lalu yang sedianya ditujukan untuk melakukan studi komparatif terhadap sejumlah komet. DIXI ditargetkan untuk melintas dekat komet Boethin pada 5 Desember 2008 mendatang.</p>
<p>Sementara itu, misi EPOCh juga akan memanfaatkan wahana Deep Impact untuk memantau sejumlah bintang dekat yang cemerlang, dan mengamati apabila sebuah planet raksasa yang sudah dikenali sebelumnya melintas di depan bintang tersebut. Data yang diperoleh akan dipakai untuk mengetahui karakteristik planet raksasa tersebut, dan untuk menentukan apakah planet tersebut memiliki cincin, bulan, ataupun planet tetangga seukuran Bumi. Sensitivitas peralatan pada misi EPOCh akan melampaui kapabilitas observatorium yang ada saat ini, baik yang berbasis di Bumi maupun di antariksa. Misi EPOCh juga akan mengukur spektrum <i>mid-infrared</i> dari Bumi, untuk menyediakan data komparatif yang akan digunakan dalam upaya mendatang untuk mempelajari atmosfer planet ekstrasolar. Misi pencarian planet ekstrasolar tersebut akan berlangsung tahun ini juga, dalam perjalanan menuju komet Boethin.</p>
<p>Misi lainnya akan melibatkan wahana Stardust milik NASA. Dengan nama <i>New Exploration of Tempel 1</i> (NExT), misi ini akan memanfaatkan wahana Stardust untuk kembali mengunjungi komet Tempel 1. Misi ini akan menyediakan pandangan pertama terhadap perubahan inti komet setelah mendekat ke matahari. Ini akan menjadi yang pertama kalinya sebuah komet dikunjungi kembali oleh suatu wahana antariksa. Misi NexT juga akan mengembangkan pemetaan terhadap komet Tempel 1, menjadikan komet tersebut sebagai komet yang terpetakan paling rinci. Upaya pemetaan ini akan membantu menjawab pertanyaan mengenai &#8220;geologi&#8221; inti komet, yang dibangkitkan oleh citra dari suatu area yang menunjukkan keberadaan material seperti cairan atau serbuk yang mengalir. Citra tersebut dikirimkan oleh wahana Deep Impact pada perlintasan dengan komet tersebut pada 4 Juli 2005 lampau. NExT dijadwalkan untuk melintas didekat komet Tempel 1 pada 14 Februari 2011 mendatang. </p>
<p>Wahana Stardust diluncurkan pada 7 Februari 1999. Wahana tersebut telah melanglang sejauh lebih dari 2 miliar mil (sekitar 3,2 miliar kilometer) untuk melintas dalam jarak sekitar 150 mil (sekitar 241 kilometer) dari komet Wild 2 pada bulan Januari 2004. Stardust mengembalikan sampel yang diharapkan dapat memberikan pemahaman baru terhadap komposisi komet dan bagaimana komposisi tersebut dapat berbeda antara satu komet dengan yang lainnya. Kapsul berisi sampel telah dikembalikan ke Bumi pada Januari 2006, sementara wahana Stardust sendiri tetap berada di antariksa. </p>
<p>&#8220;Dengan memanfaatkan wahana yang sudah beroperasi, kita dapat melaksanakan semua misi dengan dana hanya 15% dari dari dana yang harus dikeluarkan apabila kita memulai misi dari awal,&#8221; demikian ditegaskan Alan Stern dari <I>Science Mission Directorate</i>, NASA. &#8220;Tugas baru bagi wahana veteran ini adalah contoh yang bagus dimana kami memperoleh lebih banyak dengan anggaran yang kami miliki.&#8221; (<i>www.nasa.gov</i>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/07/21/tugas-baru-untuk-wahana-veteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matahari dalam Tiga Dimensi</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/04/24/matahari-dalam-tiga-dimensi/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/04/24/matahari-dalam-tiga-dimensi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 14:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Badan Ruang Angkasa AS, NASA, kemarin (23/4) mempublikasikan citra tiga dimensi pertama dari wahana Solar Terresterial Relations Observatory (STEREO). Citra tersebut juga merupakan citra pertama yang menggambarkan struktur atmosfir matahari dalam tiga dimensi. Wahana STEREO adalah misi ketiga dari Program Solar Terresterial Probes yang dijalankan oleh NASA. Wahana ini terdiri dari dua buah satelit yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Badan Ruang Angkasa AS, NASA, kemarin (23/4) mempublikasikan citra tiga dimensi pertama dari wahana <em>Solar Terresterial Relations Observatory</em> (STEREO). Citra tersebut juga merupakan citra pertama yang menggambarkan struktur atmosfir matahari dalam tiga dimensi. </p>
<p>Wahana STEREO adalah misi ketiga dari Program <i>Solar Terresterial Probes</i> yang dijalankan oleh NASA. Wahana ini terdiri dari dua buah satelit yang hampir identik yang diletakkan di dua posisi yang berbeda. Satu satelit berada di &#8220;depan&#8221; orbit Bumi, sementara kembarannya berada di &#8220;belakang&#8221; orbit Bumi. Posisi kedua wahana tersebut menyediakan paralaks yg memadai untuk menciptakan gambar-gambar tiga dimensi. </p>
<p>Misi STEREO diluncurkan pada bulan Oktober 2006 dan direncanakan akan beroperasi selama dua tahun. Misi utama dari wahana ini adalah untuk mempelajari aktivitas Matahari, khususnya <i>Coronal Mass Ejection</i> &#8212; lontaran materi dan energi dari permukaan Matahari yang berpotensi mengganggu operasional satelit dan pembangkit listrik di Bumi. (<i>www.nasa.gov</i>)</p>
<p><center><img src='http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2007/04/174859main_stereo_2d.jpg' alt='174859main_stereo_2d.jpg' /></p>
<p><img src='http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2007/04/174860main_stereo_3d.jpg' alt='174860main_stereo_3d.jpg' /></p>
<p><i>Citra matahari dalam dua dimensi (atas) dan tiga dimensi (bawah) oleh wahana STEREO. Gunakan kacamata 3D untuk melihat gambar dalam format tiga dimensi. (Gambar: NASA)</i></center></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/04/24/matahari-dalam-tiga-dimensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Pertama dari Hinode</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/12/26/citra-pertama-dari-hinode/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/12/26/citra-pertama-dari-hinode/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 16:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Wahana penelitian matahari yang dioperasikan lembaga ruang angkasa Jepang, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Hinode (&#8220;matahari terbit&#8221;), telah mengirimkan citra pertamanya yang menunjukkan detail dari daerah aktif pada korona matahari. Demikian dilansir oleh NASA pada 23 Desember lalu. Teleskop sinar-X pada Hinode telah menangkap citra atmosfir terluar matahari yang dikenal sebagai korona. Korona adalah tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahana penelitian matahari yang dioperasikan lembaga ruang angkasa Jepang, <em>Japan Aerospace Exploration Agency</em> (JAXA), Hinode (&#8220;matahari terbit&#8221;), telah mengirimkan citra pertamanya yang menunjukkan detail dari daerah aktif pada korona matahari. Demikian dilansir oleh NASA pada 23 Desember lalu.</p>
<p>Teleskop sinar-X pada Hinode telah menangkap citra atmosfir terluar matahari yang dikenal sebagai korona. Korona adalah tempat dimana aktifitas eksplosif di permukaan matahari terjadi&#8211;salah satunya adalah apa yang disebut sebagai <em>coronal mass ejections</em>. Diperkuat oleh medan magnet matahari, aktivitas ini menghasilkan efek yang berpengaruh di antariksa antara matahari dan Bumi.</p>
<p>Citra korona tersebut telah menunjukkan untuk pertama kalinya titik pancaran sinar-X yang cemerlang yang terdiri dari puntiran-puntiran (<em>loops</em>) magnetik. Citra tersebut juga menyingkap detail struktur di daerah kutub matahari, bersama dengan puntiran daerah-daerah aktif. Sebelumnya korona hanya terlihat pada saat gerhana matahari dalam warna putih cemerlang.</p>
<div align="center"><img id="image75" alt="161863main_hinode_sun_516.jpg" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2006/12/161863main_hinode_sun_516.jpg" /></div>
<div align="center"><em>Citra yang diambil oleh teleskop sinar-X Hinode<br />
(gambar: Hinode JAXA/NASA/PPARC)</em></div>
<p>Sementara itu, perangkat <em>Solar Optical Telescope</em> mengirimkan citra yang menunjukkan permukaan matahari yang telah diperbesar. Citra tersebut mengungkap detail baru dari apa yang disebut konveksi matahari, suatu proses yang mengendalikan semburan dan jatuhan gas pada daerah atmosfir terendah matahari, fotosfir. Selain itu, perangkat <em>Solar Optical Telescope</em> juga merupakan instrumen berbasis antariksa pertama yang mampu mengukur kekuatan dan arah medan magnet matahari.</p>
<p>Dengan menggabungkan observasi dari perangkat optik dan teleskop sinar-X Hinode, para ilmuwan dapat mempelajari bagaimana perubahan pada medan magnet matahari memicu lepasnya materi pada korona.</p>
<p>Misi Hinode, yang sebelum peluncurannya dikenal sebagai &#8220;Solar-B&#8221;, dioperasikan oleh JAXA sebagai misi kolaboratif yang melibatkan badan ruang angkasa Jepang, AS, Inggris dan Eropa. Wahana ini dikendalikan dari fasilitas milik JAXA di Sagamihara, Jepang. (<em>www.nasa.gov/solar-b</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/12/26/citra-pertama-dari-hinode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mars Global Surveyor Kehilangan Kontak</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/11/13/61/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/11/13/61/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 16:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Wahana Mars Global Surveyor (MGS) milik NASA telah gagal berhubungan dengan pengendali di bumi selama lima hari berturut-turut sejak kehilangan kontak saat penyesuaian rutin terhadap panel surya. Apabila hingga Sabtu mendatang usaha untuk menghubungi MGS belum juga berhasil, NASA mungkin akan memanfaatkan wahana lain yang sedang mengorbit Mars untuk mengambil gambar MGS guna mengetahui kondisinya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left" id="image60" alt="mgs.jpg" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2006/11/mgs.jpg" />Wahana <a href="http://mars.jpl.nasa.gov/mgs">Mars Global Surveyor</a> (MGS) milik NASA telah gagal berhubungan dengan pengendali di bumi selama lima hari berturut-turut sejak kehilangan kontak saat penyesuaian rutin terhadap panel surya. Apabila hingga Sabtu mendatang usaha untuk menghubungi MGS belum juga berhasil, NASA mungkin akan memanfaatkan wahana lain yang sedang mengorbit Mars untuk mengambil gambar MGS guna mengetahui kondisinya.</p>
<p><a href="http://mars.jpl.nasa.gov/mgs"> </a>Bermula pada 2 November lalu, ketika pengendali MGS mengirimkan perintah kepada wahana tersebut untuk melakukan penyesuaian terhadap posisi salah satu panel surya agar dapat menjejak matahari di arah yang lebih tepat. Data yang dikirim balik dari MGS menunjukkan adanya masalah pada motor yang menggerakan panel surya sehingga diputuskan untuk menghidupkan motor cadangan.</p>
<p>Tidak ada sinyal yang diterima pada 3 dan 4 November, namun suatu sinyal lemah telah diterima pada 5 November, mengindikasikan bahwa wahana tersebut berada pada kondisi <em>save mode</em> dan sedang menunggu instruksi selanjutnya dari pengendali di Bumi. Sinyal tersebut kemudian terputus begitu saja, dan sejak saat itu tidak ada sinyal sama sekali yang diterima dari MGS.</p>
<p>Teknisi NASA memperkirakan bahwa wahana tersebut mungkin telah melakukan manuver terprogram yang akan menggerakkan penel suryanya ke arah matahari untuk menjaga perangkat catudaya (<em>power supply</em>) agar tetap hidup. Proses ini juga menggerakkan seluruh wahana ke arah yang sama, sehingga mengurangi efektifitas komunikasi dengan Bumi.</p>
<p>&#8220;Wahana ini memiliki banyak sistem yang redudan (berlebih -red) yang bisa membantu kita untuk mengembalikannya bekerja seperti semula, namun terlebih dahulu kita perlu memperbaiki komunikasi (dengan wahana tersebut),&#8221; demikian Tom Thrope, manajer proyek MGS di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena.</p>
<p>Ditambahkannya pula bahwa juga ada kemungkinan MGS telah dihantam oleh mikrometeorit yang mengakibatkan bergesernya antena wahana itu dari posisi semula.</p>
<p>NASA masih berusaha mengontak MGS karena kemampuannya untuk menerima perintah diduga tidak terpengaruh. Namun, apabila tidak ada sinyal apapun yang diterima hingga Sabtu mendatang, maka NASA akan meminta tim <a href="http://mars.jpl.nasa.gov/mro/">Mars Reconnaissance Orbiter</a> (MRO) untuk mulai bersiap-siap untuk mengambil citra MGS pada akhir minggu depan guna mengetahui arah dan posisi wahana itu. Kedua wahana tersebut berpapasan dalam jarak sekitar 100 km beberapa kali dalam seminggu. Hal ini akan membantu tim MGS untuk mengetahui kondisi wahana dan menentukan perintah yang harus digunakan.</p>
<p>Wahana MGS diluncurkan 10 tahun lalu, tepatnya pada 7 November 1996, dan menandai keberhasilan NASA yang pertama dalam dua dekade untuk mengirim wahana ke Mars. Semula MGS bertugas untuk mempelajari permukaan Mars selama setahun Mars penuh (sekitar dua tahun Bumi). Operasionalnya direncanakan berakhir pada awal 2001, namun wahana itu masih dapat bekerja dengan sempurna sehingga misinya berkali-kali diperpanjang&#8211;terakhir kali pada 1 Oktober lampau.</p>
<p>Sejak pertama kali memulai misinya pada 1999, MGS telah mengirimkan beragam data tentang planet merah tersebut. Wahana itu telah mengamati evolusi dari suatu badai debu, mengumpulkan informasi permukaan Mars, memperlihatkan saluran-saluran yang diduga terbentuk akibat aliran air, dan membuktikan bahwa apa yang disebut sebagai wajah di permukaan Mars (<em>face on Mars</em>) yang sebelumnya dipotret oleh pengorbit Viking 1 pada 1976 sebagai lansekap alami belaka. MGS juga telah mengambil belasan ribu citra beresolusi tinggi dari permukaan Mars, dan mengirimkan pemetaan tiga-dimensi yang pertama pada kutub utara planet tersebut. (<em>space.com</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/11/13/61/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Opportunity dari Angkasa</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/10/10/citra-opportunity-dari-udara/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/10/10/citra-opportunity-dari-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Oct 2006 16:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Rover robotik Opportunity milik NASA kini mulai mempelajari lapisan batuan pada pinggiran jurang yang mengelilingi kawah besar Victoria di permukaan Mars. Saat Opportunity menghabiskan mingggu pertamanya di kawah tersebut, wahana pengorbit terbaru milik NASA, Mars Reconnaissance Orbiter, berhasil mengambil gambar rover tersebut beserta lingkungan sekelilingnya dari angkasa. Para ahli berharap gambar-gambar detail yang dikirim oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rover robotik Opportunity milik NASA kini mulai mempelajari lapisan batuan pada pinggiran jurang yang mengelilingi kawah besar Victoria di permukaan Mars.</p>
<p>Saat Opportunity menghabiskan mingggu pertamanya di kawah tersebut, wahana pengorbit terbaru milik NASA, <em>Mars Reconnaissance Orbiter</em>, berhasil mengambil gambar rover tersebut beserta lingkungan sekelilingnya dari angkasa. Para ahli berharap gambar-gambar detail yang dikirim oleh orbiter tersebut dapat membantu mengarahkan rover Opportunity saat mengeksplorasi kawah Victoria.</p>
<p>Para ahli menyebutkan bahwa keberhasilan ini adalah contoh yang luar biasa mengenai bagaimana misi Mars, baik di orbit maupun di permukaan dirancang untuk saling memperkuat dan meningkatkan kemampuan dalam eksporasi maupun upaya penemuan di planet tersebut.</p>
<div style="text-align: center"><img alt="rovercrater.jpg" id="image49" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2006/10/rovercrater.jpg" /></div>
<div style="text-align: center"><em>Gambar dari wahana Mars Reconnaissance Orbiter yang menunjukkan rover Opportunity di dekat bibir kawah Victoria. (NASA/JPL/University of Arizona)</em></div>
<p>Gambar dari <em>Mars Reconnaissance Orbiter</em> diaharapkan dapat membantu para pengendali untuk mementukan jalan terbaik untuk mengirim rover Opportunity ke sekeliling lingkaran kawah. Sebaliknya, observasi dari darat oleh rover Opportunity akan menyediakan informasi yang berguna untuk meng-interpretasikan citra yang dikirim oleh wahana pengorbit.</p>
<p>Gambar-gambar terkait tersedia di situs web <a href="http://marsrovers.jpl.nasa.gov/gallery/press/opportunity/20061006a.html">Mars Exploration Rovers</a>. (marsrovers.jpl.nasa.gov)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/10/10/citra-opportunity-dari-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera Hubble Kembali Bermasalah</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/10/01/hubble-kembali-bermasalah/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/10/01/hubble-kembali-bermasalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Sep 2006 20:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Teleskop Antariksa Hubble kembali mengalami gangguan, dengan matinya kamera utama pada teleskop tersebut. Demikian diumumkan oleh pihak operator dari The Space Telescope Science Institute (STSCI) Jumat (29/9) lalu. Manajer program dari Goddard Space Flight Center bersama STSCI masih berusaha menelusuri penyebab masalah sekaligus memutuskan tindakan yang mesti diambil. Analisis awal menunjukkan bahwa masalah yang menimpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teleskop Antariksa Hubble kembali mengalami gangguan, dengan matinya kamera utama pada teleskop tersebut. Demikian diumumkan oleh pihak operator dari <em>The Space Telescope Science Institute</em> (<a href="http://www.stsci.edu/resources/">STSCI</a>) Jumat (29/9) lalu.</p>
<p>Manajer program dari <em>Goddard Space Flight Center</em> bersama STSCI masih berusaha menelusuri penyebab masalah sekaligus memutuskan tindakan yang mesti diambil. Analisis awal menunjukkan bahwa masalah yang menimpa Hubble terkait dengan kamera beresolusi tinggi pada perangkat <em>Advanced Camera for Surveys</em> (ACS) yang terpasang pada teleskop tersebut.</p>
<p>Kerusakan tersebut adalah yang kedua kalinya terjadi pada tahun ini, setelah pada 19 Juni lalu, instrumen yang sama mengalami gangguan akibat perangkat <em>power converter</em> yang mencatu daya mengalami kelebihan beban. Perlu waktu dua minggu bagi para operator untuk berpindah ke perangkat cadangan.</p>
<p>Perangkat ACS dipasang oleh awak pesawat ulang-alik pada bulan Maret 2002. Selama ini, perangkat tersebut telah membantu para astronom untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai pembentukan galaksi pada masa awal terciptanya alam semesta. Instrumen ini terdiri atas tiga kamera elektronik, filter, dan piranti keluaran yang mendeteksi gelombang cahaya mulai dari spektrum ultraviolet hingga <em>near infrared</em>. Masalah yang menimpa ACS pada Juni lalu berpengaruh pada dua diantara tiga kamera pada ACS.</p>
<p><em>Update: Perangkat ACS telah kembali normal sejak tanggal 1 Oktober 2006</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/10/01/hubble-kembali-bermasalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
