<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Astronomi &#187; solar system</title>
	<atom:link href="http://ias.dhani.org/tag/solar-system/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ias.dhani.org</link>
	<description>Berita dan Peristiwa Seputar Antariksa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 10:24:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bukti Keberadaan Air di Permukaan Bulan</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/10/03/bukti-keberadaan-air-di-permukaan-bulan/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/10/03/bukti-keberadaan-air-di-permukaan-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 18:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Moon]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Data baru dari wahana Deep Impact dan Moon Mineralogy Mapper (M3), instrumen yang dibawa oleh wahana milik India yang baru saja menghakhiri misinya di Bulan, Chandrayaan-1, untuk pertama kalinya menyajikan bukti yang jelas bahwa air ternyata eksis di permukaan Bulan. “Observasi oleh wahana Deep Impat terhadap permukaan bulan tidak hanya tegas-tegas mengkonfirmasi keberadaan OH/H2O di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Data baru dari wahana Deep Impact dan <em>Moon Mineralogy Mapper</em> (M3), instrumen yang dibawa oleh wahana milik India yang baru saja menghakhiri misinya di Bulan, Chandrayaan-1, untuk pertama kalinya menyajikan bukti yang jelas bahwa air ternyata eksis di permukaan Bulan.</p>
<p>“Observasi oleh wahana Deep Impat terhadap permukaan bulan tidak hanya tegas-tegas mengkonfirmasi keberadaan OH/H2O di permukaan bulan, melainkan juga mengungkap bahwa keseluruhan permukaan bulan terbasahi setidaknya pada sebagian sisi permukaan bulan yang mengalami siang hari,” demikian tulis Jessica Sunshine, astronom dari <em>University of Maryland</em> yang juga penulis utama dari paper mengenai data dari wahana Deep Impact yang diterbitkan pada jurnal <em>Science</em> pada 24 September lalu.</p>
<p>Sejumlah kecil air menghasilkan kegembiraan besar. “Menemukan air di bulan di siang hari adalah kejutan besar, bahkan apabila hanya sedikit air dan hanya dalam bentuk molekul yang menempel di tanah,” jelas Sunshine. Pandangan ilmiah selama ini menyatakan bahwa kemungkinan <a href="/2006/10/20/tidak-ada-bukti-deposit-es-di-bulan/">tidak ada air di permukaan Bulan</a>, dan sekalipun ada, hanya dapat ditemui di kawah yang berbayang dan dingin secara permanen di kutub bulan.</p>
<p>&#8220;Dalam data dari Deep Impact, kita pada dasarnya menyaksikan molekul air membentuk dan kemudian menghilang tepat di depan mata kita,&#8221; kata Sunshine, yang mengatakan reaksi pertamanya terhadap data M3 adalah skeptis.</p>
<p>&#8220;Kami tidak yakin bagaimana hal ini terjadi,&#8221; katanya, &#8220;tapi temuan kami menunjukkan sebuah siklus yang didorong oleh matahari dimana lapisan air yang hanya setebal beberapa molekul membentuk, menghilang dan kembali membentuk setiap hari di permukaan bulan. Kami berpendapat bahwa ion hidrogen dari matahari yang dibawa oleh angin matahari ke Bulan telah berinteraksi dengan mineral yang kaya oksigen dalam tanah bulan untuk menghasilkan molekul air [H2O] dan hidroksil [OH] yang ditunjukkan secara meyakinkan melalui analisa spektral. Dalam sebuah siklus yang terjadi seluruhnya di siang hari, air ini terbentuk di pagi hari, secara substansial hilang pada tengah hari, dan kembali terbentuk saat permukaan bulan mendingin menjelang malam hari.</p>
<p>&#8220;Jika hal ini benar, maka hidrasi melalui angin surya diperkirakan akan terjadi di seluruh Tata Surya bagian dalam pada semua objek hampa udara dengan mineral yang mengikat oksigen pada permukaannya,&#8221; kata Sunshine.</p>
<p>&#8220;Dalam konteks sains Bulan, ini adalah penemuan besar,&#8221; tegas Paul G. Lucey, seorang ilmuwan planet dari University of Hawaii dalam sebuah artikel yang dimuat di  harian Los Angeles Times.</p>
<p>“Tidak ada bukti yang dapat diterima bahwa terdapat air di permukaan bulan, [tapi] kini telah ditunjukkan bahwa hal itu dengan mudah dapat dideteksi melalui metode yang sangat sensitif. Sebagai ilmuwan yang mempelajari bulan, saat saya membaca tentang ini, saya merasa sangat senang,” jelas Lucey, yang tidak terlibat dalam riset tersebut.</p>
<p>Walaupun instrumen M3 dan tim sainsnya telah membuat penemua awal mengenai keberadaan air di sejumlah area di permukaan Bulan, Sunshine dan para <em>co-author</em> dari paper Deep Impact menyatakan bahwa bukti konklusif dari penemuan air, pemahaman bahwa itu adalah fenomena yang terjadi di seluruh permukaan, dan pengetahuan bahwa itu adalah proses yang bergantung pada suhu hanya dimungkinkan berkat data yang dikumpulkan oleh wahana Deep Impat dalam misi lanjutannya saat ini (dengan nama <em>Extrasolar Planet Observation and Deep Impact Extended Investigation</em>, <a href="/2007/07/21/tugas-baru-untuk-wahana-veteran/">EPOXI</a>).</p>
<p>Deep Impact tidak didesain untuk mempelajari Bulan, namun untuk misi yang terkenal pada 2005, dimana wahana ini berhasil melubangi permukaan komet Tempel 1 untuk mencari tahu apa yang ada didalamnya. Data mengenai air di permukaan bulan diambil sebagai bagian dari kesempatan melakukan kalibrasi pada perlintasan dengan Bumi dan Bulan yang terjadi pada Juni 2009 dan Desember 2007 guna mendapatkan dorongan gravitasi untuk mencapai komet kedua dalam misinya, Hartley 2, yang akan dicapainya pada November 2010 mendatang.</p>
<p>“Tanpa rentang spektral dari instrumen Deep Impact, penemuan air di permukaan oleh M3 tidak akan sampai sedemikian definitif, dan karena wahana Deep Impact melakukan observasi pada waktu-waktu yang berbeda dari siang hari di Bulan, efek dari temperatur menjadi lebih jelas terlihat,” jelas Sunshine.</p>
<p>Astronom dari <em>University of Maryland</em>, Michael A’Hearn, pimpinan tim sains Deep Impact dan EPOXI, dan salah satu dari empat <em>co-author</em> Sunshine menyatakan, “Saya pikir, adalah sangat hebat bahwa wahana Deep Impact, yang pernah menjadi yang pertama mendeteksi es pada inti sebuah komet, kini mendemonstrasikan eksistensi keberadaan air di Bulan.”</p>
<p>“Wahana dan instrumen yang hebat ini terus membuat penemuan yang penting dan tak terduga, lama setelah misi utamanya selesai,” lanjutnya. (<em>newsdesk.umd.edu</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/10/03/bukti-keberadaan-air-di-permukaan-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyingkap Rahasia Atmosfer Pluto</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 16:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[dwarf planet]]></category>
		<category><![CDATA[Pluto]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Pluto, yang yang berukuran sekitar seperlima ukuran Bumi, sebagian besarnya tersusun atas batuan dan es. Terletak sejauh 40 kali rata-rata jarak Bumi ke Matahari, Pluto adalah dunia yang sangat dingin dengan suhu permukaan mencapai -220 derajat Celcius. Sejak dekade 1980-an telah diketahui bahwa Pluto memiliki atmosfer yang tipis yang didominasi oleh nitrogen dengan jejak metana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pluto, yang yang berukuran sekitar seperlima ukuran Bumi, sebagian besarnya tersusun atas batuan dan es. Terletak sejauh 40 kali rata-rata jarak Bumi ke Matahari, Pluto adalah dunia yang sangat dingin dengan suhu permukaan mencapai -220 derajat Celcius.</p>
<p>Sejak dekade 1980-an telah diketahui bahwa Pluto memiliki atmosfer yang tipis yang didominasi oleh nitrogen dengan jejak metana dan kemungkinan karbon dioksida. Tekanan atmosfernya hanya sekitar seperseratus ribu tekanan atmosfer Bumi, atau sekitar 0.015 milibar.</p>
<p>Sampai baru-baru ini, hanya lapisan atas dari Atmosfer Pluto yang dapat dipelajari. Dengan mengamati okultasi bintang (ESO 21/22), fenomena yang terjadi apabila suatu anggota tata surya menghalangi cahaya sebuah bintang di latar belakang, para astronom berhasil menunjukkan bahwa lapisan atas dari atmosfer dari Pluto adalah berkisar -170 derajat Celcius, atau sekitar 50 derajat lebih hangat daripada suhu di permukaannya. Observasi ini dapat memberikan petunjuk mengenai temperatur dan tekanan atmosferik di dekat permukaan Pluto. </p>
<p>Namun uniknya, observasi terkini menggunakan perangkat <em>CRyogenic InfraRed Echelle Spectrograph</em> (CRIRES) yang terpasang pada <em>Very Large Telescope</em> milik <em>European Space Observatory</em> (ESO) kini telah mengungkapkan bahwa atmosfer Pluto secara keseluruhan, bukan hanya di lapisan atasnya, memiliki suhu rata-rata sekitar -180 derajat Celcius, dan dengan demikian “jauh lebih panas” daripada suhu permukaannya.</p>
<p>Berkebalikan dengan atmosfer Bumi, di Pluto temperatur justeru meningkat seiring bertambahnya ketinggian. Perubahan suhunya berkisar 3 hingga 15 derajat per kilometer. Di Bumi, dalam kondisi normal, temperatur berkurang sekitar 6 derajat setiap kilometer ketinggian. </p>
<p>Alasan mengapa permukaan Pluto sedemikian dingin berhubungan dengan eksistensi atmosfer Pluto, yakni karena terjadinya sublimasi es di permukaan; analog dengan keringat yang mendinginkan tubuh saat menguap dari permukaan kulit kita, sublimasi ini memiliki efek pendinginan pada permukaan Pluto. Dari segi ini, Pluto memiliki sifat yang sama dengan komet, dimana bagian coma dan ekornya juga terbentuk dari es yang menyublim saat komet mendekati Matahari.</p>
<p>Observasi menggunakan CRIRES juga mengindikasikan bahwa metana adalah gas paling berlimpah nomor dua di atmosfer Pluto, merepresentasikan setengah persen dari molekul-molekul yang ada. “Kami berhasil menunjukkan bahwa jumlah sebesar itu memainkan peranan penting dalam proses pemanasan di atmosfer dan dapat menjelaskan peningkatan suhu atmosferik,” jelas Emmanuel Lellouch, penulis utama makalah yang melaporkan penemuan ini.</p>
<p>“Menarik untuk dipikirkan bahwa dengan CRIRES kami dapat mengukur secara presisi jejak suatu gas dalam atmosfer 100.000 kali lebih tipis daripada di Bumi, pada objek yang lima kali lebih kecil dari planet kita dan terletak di tepi tata surya,” ungkap <em>co-author</em>, Hans-Ulrich Käufl. “Kombinasi CRIRES dan VLT adalah seperti memiliki satelit penelitian atmosfer yang mengorbit Pluto.”</p>
<p>Dua model yang berbeda dapat menjelaskan properti atmosfer Pluto. Dalam model pertama, para astronom mengasumsikan bahwa permukaan Pluto dilingkupi oleh lapisan tipis metana, yang menempati sublimasi bekuan nitrogen. Skenario kedua melibatkan keberadaan metana murni di permukaan Pluto. 	</p>
<p>Menentukan mana yang paling tepat diantara keduanya akan membutuhkan studi yang lebih intensif saat Pluto bergerak menjauh dari Matahari. “Dan tentu saja, wahana antariksa New Horizon milik NASA akan menyediakan lebih banyak petunjuk saat mencapai planet kerdil itu pada 2015 nanti,” tukas Lellouch.</p>
<p>Penemuan ini telah dilaporkan dalam jurnal <em>Astronomy and Astrophysics</em> pada Februari lalu dalam makalah berjudul <em>Pluto&#8217;s lower atmosphere structure and methane abundance from high-resolution spectroscopy and stellar occultations</em> oleh E. Lellouch et al. (<em>www.eso.org</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aurora Misterius di Saturnus</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/11/21/aurora-misterius-di-saturnus/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/11/21/aurora-misterius-di-saturnus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 15:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[Saturn]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[Kamera inframerah pada wahana NASA, Cassini, telah menemukan suatu aurora yang berpendar di lingkaran kutub Saturnus. Penemuan baru yang misterius ini tidak serupa dengan fenomena serupa yang dikenal di tata surya kita. “Kami tidak pernah melihat aurora seperti ini di tempat lain,” jelas Tom Stallard, yang menekuni data Cassini di University of Leicester. “Itu bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamera inframerah pada wahana NASA, Cassini, telah menemukan suatu aurora yang berpendar di lingkaran kutub Saturnus. Penemuan baru yang misterius ini tidak serupa dengan fenomena serupa yang dikenal di tata surya kita. </p>
<p>“Kami tidak pernah melihat aurora seperti ini di tempat lain,” jelas Tom Stallard, yang menekuni data Cassini di <em>University of Leicester</em>. “Itu bukan hanya suatu cincin aurora seperti halnya yang telah kita lihat di Jupiter atau Bumi. Aurora ini menutupi area yang sangat luas di sepanjang kutub. Gagasan kami sekarang mengenai apa yang membentuk aurora pada Saturnus memprediksikan bahwa daerah tersebut semestinya kosong, sehingga penemuan sesuatu yang sedemikian cemerlang adalah kejutan yang fantastik.”</p>
<p>Partikel bermuatan yang mengalir di sepanjang medan magnet suatu planet dan kedalam atmosfernya menyebabkan terbentuknya aurora. Di Bumi, partikel bermuatan tersebut berasal dari angin matahari – aliran partikel yang memancar dari Matahari.</p>
<p align="center"><img src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/11/img003313-br500.jpg" alt="" title="img003313-br500" width="425" height="343" class="aligncenter size-full wp-image-370" /><br />
<em>Citra Cassini yang memperlihatkan aurora Jupiter dan atomsfer di sekitarnya, diperlihatkan dalam dua panjang gelombang sinar inframerah. (Gambar: NASA/JPL/University of Arizona)</em></p>
<p>Cincin aurora utama pada Jupiter disebabkan oleh interaksi didalam lingkungan magnetik Jupiter dan memiliki ukuran yang konstan. Sementara itu, aurora utama pada Saturnus, yang disebabkan oleh angin Matahari, ukurannya berubah secara dramatis sesuai dengan intensitas angin Matahari. Namun demikian, aurora yang baru teramati ini tidak cocok dengan katagori-katagori tersebut. </p>
<p>“Fitur aurora yang unik pada Saturnus mengatakan ke kita bahwa ada sesuatu yang spesial dan tak terduga pada magnetosfer planet dan caranya berinteraksi dengan angin matahari serta atmosfer planet,” demikian dikatakan Nick Achilleos, saintis dari tim magnetometer Cassini di <em>University College</em> di London. “Mencoba menjelaskan menyebabkan tidak diragukan lagi akan membawa kita ke gejala fisika yang secara unik bekerja pada lingkungan Saturnus.”</p>
<p>Aurora inframerah baru tersebut nampak di daerah yang tersembunyi dari pandangan Teleskop Antariksa Hubble, yang pernah mengamati aurora ultraviolet Saturnus. Cassini mengobservasinya saat wahana tersebut terbang di dekat daerah kutub Saturnus. Dalam sinar inframerah, aurora tersebut sewaktu-waktu mengisi daerah di sekitar  82° lintang utara sepanjang lingkaran kutub. Aurora ini berubah-ubah secara konstan, bahkan menghilang dalam periode 45 menit. (<em>saturn.jpl.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/11/21/aurora-misterius-di-saturnus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Lalu Mars yang Basah</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/07/28/masa-lalu-mars-yang-basah/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/07/28/masa-lalu-mars-yang-basah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 16:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Dua studi terpisah yang didasarkan atas data yang didapat dari wahana Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA telah mengungkapkan bahwa planet merah tersebut di suatu waktu pernah menyimpan danau-danau yang luas, sungai yang mengalir serta lingkungan berair lainnya yang potensial untuk mendukung bentuk kehidupan. Salah satu studi, diterbitkan di jurnal Nature pada 17 Juli lalu menunjukkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua studi terpisah yang didasarkan atas data yang didapat dari wahana <em>Mars Reconnaissance Orbiter</em> milik NASA telah mengungkapkan bahwa planet merah tersebut di suatu waktu pernah menyimpan danau-danau yang luas, sungai yang mengalir serta lingkungan berair lainnya yang potensial untuk mendukung bentuk kehidupan.</p>
<p>Salah satu studi, diterbitkan di jurnal Nature pada 17 Juli lalu menunjukkan daerah yang luas dari dataran tinggi purba di Mars, yang meliputi sekitar setengah permukaan planet tersebut, mengandung mineral tanah liat, yang hanya bisa terbentuk apabila terdapat air. <span id="more-237"></span>Lava vulkanis terkubur dibawah daerah yang kaya akan tanah liat dalam periode yang lebih kering pada sejarah planet itu. Data ini diperoleh dari perangkat <em>Compact Reconnaissance Imaging Spectrometer for Mars</em> (CRISM) dan sejumlah instrumen lainnya pada wahana tersebut.</p>
<p>Mineral yang mirip tanah liat, disebut <em>phyllosilicates</em>, tersebut menyimpan catatan interaksi air dengan batuan dari masa yang dikenal sebagai periode Noachian pada sejarah planet Mars, sekitar 4,6 miliar hingga 3,8 miliar tahun lalu. Periode ini berhubungan dengan masa-masa awal dari tata surya, dimana Bumi, Bulan, dan Mars secara konstan dibombardir oleh komet dan meteorit. Di bumi, batuan dari periode ini sebagian besar telah dihancurkan dalam lempeng tektonik. Sementara di bulan, batuan tersebut terawetkan dengan baik, namun tidak pernah berinteraksi dengan air cair. Batuan Mars yang mengandung <em>phyllosilicates</em> menyimpan catatan yang unik tentang lingkungan dengan air berbentuk cair yang mungkin sesuai untuk mendukung kehidupan pada masa awal tata surya.</p>
<p align=center><img src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/07/mars_wet_past_0708.jpg" alt="" title="mars_wet_past_0708" width="400" height="298" class="aligncenter size-full wp-image-238" /><br />
<em>Citra dari kawah Jazero, yang diperkirakan pernah menyimpan danau. Aliran sungai purba yang membawa mineral mirip tanah liat (ditunjukkan dalam warna hijau) ke dalam danau membentuk sebuah delta. Tanah liat kemudian mengendap di dasar danau dan dapat mengawetkan materi organik. (Gambar: NASA/JPL/JHUAPL/MSSS/Brown University)</em></p>
<p>Seperti dijelaskan oleh John Mustard, anggota tim CRISM dari <em>Brown University</em> dan penulis utama studi tersebut, mineral-mineral tersebut menunjukkan adanya keragaman pada lingkungan yang basah di Mars. “Pada kebanyakan lokasi, batuan sedikit terkikis oleh air cair, namun di sejumlah kecil lokasi, batuan tersebut telah sedemikian terkikis, seperti sejumlah besar air telah megalir diantara batuan dan tanah.”</p>
<p>Sementara itu, studi lain yang dipublikasikan pada jurnal <em>Nature Geosciences</em> edisi 2 Juni mengungkapkan bahwa lingkungan basah di Mars berlangsung selama periode yang cukup lama. Ribuan hingga jutaan tahun setelah tanah liat terbentuk, sebuah sistem aliran sungai mengerosi lapisan ini dari dataran tinggi dan mengumpulkannya di sebuah delta, dimana sugai bermuara pada sebuah danau kawah berdiameter sekitar 25 mil (40 km), atau sedikit lebih besar dari danau Tahoe di California.</p>
<p>“Penyebaran tanah liat di dasar danau purba tersebut menunjukkan bahwa  genangan air telah ada disana selama ribuan tahun,” jelas Bethany Ehlmann, anggota tim CRISM lainnya dari Brown University. Ehlmann adalah penulis utama dari makalah tentang danau purba pada kawah benturan meteorit, dinamai kawah Jazero, yang terletak di belahan utara Mars. “Tanah liat sangat baik dalam mengawetkan materi organik, hingga sekiranya kehidupan pernah ada di kawasan ini, ada kemungkinan bahwa unsur-unsur kimianya terawetkan di delta.”</p>
<p>Resolusi spasial dan spektral yang dimiliki perangkat CRISM lebih baik daripada spektrometer yang pernah dikirim ke Mars sebelumnya, dan mengungkap variasi dalam jenis dan komposisi mineral <em>phyllosilicate</em>. Dengan mengkombinasikan data dari CRISM dan perangkat <em>Context Imager and High Resolution Imaging Science Experiment</em> yang dibawa wahana yang sama, tim Ehlmann mengidentifikasi tiga golongan utama dari mineral yang berhubungan dengan air yang berasal dari awal periode Noachian. Variasi mineral itu menunjukkan perbedaan proses atau perbedaan tipe lingkungan basah yang telah membentuknya.</p>
<p>Para ilmuwan berniat memanfaatkan data penemuan ini untuk menentukan lokasi pendaratan wahana berikutnya yang akan mencari senyawa kimia organik serta mencari tahu apakah kehidupan pernah berkembang di Mars. (<em>mars.jpl.nasa.gov/mro</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/07/28/masa-lalu-mars-yang-basah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makemake, Anggota Terbaru Plutoid</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/07/17/makemake-anggota-terbaru-plutoid/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/07/17/makemake-anggota-terbaru-plutoid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 17:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[dwarf planet]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Pada 11 Juli 2008, Uni Astronomi Internasional (International Astronomical Union, IAU), telah memasukkan objek sabuk kuiper yang dikenal sebagai Makemake (136472 Makemake) kedalam kelompok plutoid. Dengan demikian, objek tersebut kini resmi diklasifikasikan sekaligus sebagai planet kerdil dan plutoid, bersama dengan dua objek sejenisnya, Pluto dan Eris. Ditemukan pada 31 Maret 2005, beberapa hari sebelum perayaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 11 Juli 2008, Uni Astronomi Internasional (<em>International Astronomical Union</em>, IAU), telah memasukkan objek sabuk kuiper yang dikenal sebagai Makemake (136472 Makemake) kedalam kelompok plutoid. Dengan demikian, objek tersebut kini resmi diklasifikasikan sekaligus sebagai planet kerdil dan plutoid, bersama dengan dua objek sejenisnya, Pluto dan Eris.</p>
<p>Ditemukan pada 31 Maret 2005, beberapa hari sebelum perayaan paskah, oleh tim astronom pimpinan Michael Brown, keberadaanya baru diumumkan pada 29 Juli 2005 bersamaan dengan pengumuman penemuan Eris. Setelah sebelumnya sempat disebut sebagai “Easterbuny” (kelinci paskah), objek ini kemudian diberi nama resmi sebagai “Makemake” (dilafalkan <em>ma-kay-ma-kay</em>), diambil dari nama dewa kemanusiaan dan dewa kesuburan dalam mitologi penduduk di  pulau Rapa Nui di Pasifik Selatan, yang lebih dikenal sebagai pulau Paskah <em>(Easter Island</em>). Nama ini sengaja dipilih untuk menjaga keterkaitannya dengan Paskah.</p>
<p>Dengan magnitudo tampak sebesar 16,7 Mag., Makemake saat ini adalah objek sabuk kuiper paling cemerlang setelah Pluto. Walapun besarnya masih belum dapat diukur secara akurat, namun berdasarkan pengamatan dalam panjang gelombang inframerah oleh teleskop antariksa Spitzer, ditambah adanya kesamaan spektrum dengan Pluto, maka diameternya diperkirakan sekitar 1.500 (+400/-200) km, menempatkannya sebagai objek Trans-Neptunian terbesar nomor tiga setelah Eris dan Pluto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/07/17/makemake-anggota-terbaru-plutoid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Es di Permukaan Mars?</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/06/26/es-di-permukaan-mars/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/06/26/es-di-permukaan-mars/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 15:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun masih belum bisa dibuktikan secara langsung melalui pengukuran ilmiah, para ilmuwan meyakini bahwa mereka telah berhasil menemukan keberadaan es di permukaan Mars. Hal tersebut dapat dilihat dari material misterius berwarna putih yang terlihat di permukaan Mars beberapa hari terakhir. Citra yang dikirimkan wahana Phoenix Mars Lander memperlihatkan material yang berwarna lebih cerah daripada lingkungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Walaupun masih belum bisa dibuktikan secara langsung melalui pengukuran ilmiah, para ilmuwan meyakini bahwa mereka telah berhasil menemukan keberadaan es di permukaan Mars. Hal tersebut dapat dilihat dari material misterius berwarna putih yang terlihat di permukaan Mars beberapa hari terakhir.</p>
<p>Citra yang dikirimkan wahana Phoenix Mars Lander memperlihatkan material yang berwarna lebih cerah daripada lingkungan sekitarnya di ujung lokasi pengerukan sampel. Hal ini sempat memancing keingin-tahuan para ilmuwan yang terlibat mengenai apakah apakah material tersebut benar-benar es seperti perkiraan selama ini ataukah onggokan garam.<span id="more-211"></span></p>
<p>Namun, pengamatan selama beberapa hari menunjukkan bahwa bagian yang berwarna putih tersebut berangsur-angsur menghilang. Dengan demikian, kemungkinan besar material tersebut memang es yang kemudian menguap setelah terpapar suhu yang lebih hangat di permukaan. Garam tak mungkin hilang karena tidak menguap. Demikian seperti dijelaskan oleh Peter Smith, salah satu peneliti utama misi Phoenix.</p>
<p align=center><img src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/06/190106p.jpg" alt="" title="190106p" width="298" height="225" class="aligncenter size-full wp-image-212" /><br />
<em>Citra permukaan Mars yang diambil tanggal 15 Juni (kiri) dan 19 Juni (kanan). Lapisan putih tipis di sebelah kiri terlihat menyusut, diperkirakan akibat penguapan. (Gambar: NASA)</em></p>
<p>Sekalipun demikian, bukti yang lebih akurat mengenai ada tidaknya es di Mars masih terus digali dengan mempelajari sampel tanah yang didapat. Saat berita ini diturunkan, Phoenix telah selesai melakukan pengambilan sampel dari lokasi dimana bercak putih tersebut ditemui. Sampel tersebut kini sedang dianalisis oleh laboratorium mini pada wahana Phoenix. </p>
<p>Phoenix mendarat di daerah yang dekat dengan kutub utara Mars. Para ilmuwan yakin di bawah permukaan tanah di lokasi pendaratannya terdapat es. Misi utama wahana pendarat milik badan antariksa AS ini membuktikan hal tersebut sekaligus mempelajari apakah lingkungan di planet merah tersebut mendukung keberadaan organisme hidup. (<em>mars.jpl.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/06/26/es-di-permukaan-mars/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katagori Baru: Plutoid</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/06/14/katagori-baru-plutoid/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/06/14/katagori-baru-plutoid/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 15:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[dwarf planet]]></category>
		<category><![CDATA[Pluto]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Hampir dua tahun berlalu semenjak memperkenalkan katagori planet kerdil (dwarf planets), Uni Astronomi Internasional (International Astronomical Union, IAU) kini telah memutuskan penggunaan sebutan “plutoid” untuk objek-objek transneptunian yang serupa dengan Pluto. Sebutan ini ditetapkan pada pertemuan komite eksekutif IAU di Oslo, Norwegia, baru-baru ini. Plutoid didefinisikan sebagai benda angkasa yang mengorbit Matahari pada jarak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir dua tahun berlalu semenjak memperkenalkan katagori planet kerdil (<em>dwarf planets</em>), Uni Astronomi Internasional (<em>International Astronomical Union</em>, IAU) kini telah memutuskan penggunaan sebutan “<em>plutoid</em>” untuk objek-objek transneptunian yang serupa dengan Pluto. Sebutan ini ditetapkan pada pertemuan komite eksekutif IAU di Oslo, Norwegia, baru-baru ini.</p>
<p><em>Plutoid</em> didefinisikan sebagai benda angkasa yang mengorbit Matahari pada jarak yang lebih jauh dari Neptunus dan memiliki massa yang cukup agar gravitasinya sendiri dapat mengatasi gaya dari suatu benda tegar sehingga diasumsikan memiliki bentuk keseimbangan ekuilibrium (mendekati bentuk bundar), serta berbagi lintasan orbitnya dengan objek sejenis.<span id="more-209"></span> Dua planet kerdil yang telah dikenal, Pluto dan Eris, kini telah dimasukkan dalam keluarga <em>plutoid</em>. Seiring kemajuan dalam penemuan sains, maka diperkirakan akan lebih banyak lagi <em>plutoid</em> yang akan dikenali di masa mendatang</p>
<p>Ceres, yang bersama dengan Pluto dan Eris digolongkan sebagai planet kerdil, tidak dapat dikatagorikan sebagai <em>plutoid</em> dikarenakan orbitnya yang masih berada di dalam orbit Neptunus. Seperti diketahui, Ceres mengorbit Matahari di sabuk Asteroid, di antara orbit planet Mars dan Jupiter. Hingga kini Ceres masih merupakan satu-satunya objek di kelasnya sehingga belum diperlukan adanya katagori khusus untuk objek serupa Ceres.</p>
<p>Pertemuan di Oslo juga membahas penamaan plutoid baru. Diputuskan bahwa objek Tata Surya yang memiliki sumbu semimayor lebih besar dari Neptunus dan magnitudo absolut lebih besar dari H = +1 magnitud otomatis akan dianggap sebagai <em>plutoid</em> dan akan diberi nama oleh <em>Committee on Small Body Nomenclature</em> (CSBN) serta <em>Working Group for Planetary System Nomenclature</em> (WGPSN). Keduanya adalah komite dan kelompok kerja dibawah payung IAU. Nama yang diajukan tim penemu akan diberikan sebagai nama kehormatan. Namun jika dalan penelitian lanjutan objek tersebut tidak cukup masif dan tidak memenuhi kualifikasi plutoid, maka objek itu bisa tetap memakai namanya namun katagorinya akan dirubah. (<em>iau.org</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/06/14/katagori-baru-plutoid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Phoenix Mendarat di Permukaan Mars</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/05/26/phoenix-mendarat-di-permukaan-mars/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/05/26/phoenix-mendarat-di-permukaan-mars/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 16:12:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 10 bulan, melintasi jarak 422 juta mil, wahana pendarat Phoenix yang dioperasikan NASA akhirnya berhasil mendarat di lingkaran kutub utara Mars. Phoenix mendarat pada Senin pagi, 26 Mei waktu Indonesia. Sinyal radio yang diterima pada 25 Mei pukul 16:53:44 Waktu Pasifik (26 Mei, 06:53:44 WIB) menunjukkan bahwa wahana tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 10 bulan, melintasi jarak 422 juta mil, wahana pendarat Phoenix yang dioperasikan NASA akhirnya berhasil mendarat di lingkaran kutub utara Mars. Phoenix mendarat pada Senin pagi, 26 Mei waktu Indonesia.</p>
<p>Sinyal radio yang diterima pada 25 Mei pukul 16:53:44 Waktu Pasifik (26 Mei, 06:53:44 WIB) menunjukkan bahwa wahana tersebut berhasil bertahan dalam proses pendaratan yang sulit dan berbahaya, dan telah menyentuh permukaan Mars 15 menit sebelum sinyal diterima. <span id="more-204"></span>Selisih waktu tersebut adalah saat yang dibutuhkan sinyal dari wahana tersebut untuk melaju dengan kecepatan cahaya menuju Bumi. Konfirmasi ini disambut sorak sorai oleh para anggota tim di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, <em>Lockheed Martin Space Systems</em> di Denver, dan di <em>University of Arizona</em>.</p>
<p>Citra pertama yang diterima dari Phoenix setelah mendarat adalah gambar panel surya wahana tersebut. Citra ini digunakan para pengendali di Bumi untuk memastikan panel surya telah mengembang secara sempurna. Gambar permukaan yang diterima selanjutnya menunjukkan daerah yang relatif datar dengan hanya sedikit bebatuan dan tidak didapati adanya es.</p>
<p align="center"><img class="alignnone size-full wp-image-206" title="phx-landscape-226" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/05/raw-solarpanel-226.jpg" alt="" /> <img class="alignnone size-full wp-image-206" title="phx-landscape-226" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2008/05/phx-landscape-226.jpg" alt="" /><br />
<em>Citra panel surya Phoenix (kiri) dan pemandangan di lokasi pendaratan (kanan)<br />
(Gambar: NASA)</em></p>
<p>Dalam misi yang direncanakan berlangsung selama 3 bulan kedepan, Phoenix akan mempelajari lapisan es yang ada dibawah permukaan tanah di planet merah tersebut. Wahana ini membawa instrumen ilmiah khusus untuk menganalisis apakah lapisan es tersebut di suatu waktu pernah meleleh dan apakah terdapat bahan kimia organik pada lapisan tanah beku di Mars. Keduanya adalah pertanyaan kunci dalam mengevaluasi apakah lingkungan Mars pernah mendukung bentuk kehidupan mikrobial.</p>
<p>Phoenix dikembangkan berdasarkan wahana yang semula direncanakan untuk dikirim pada 2001, namun kemudian dibatalkan menyusul kegagalan pendaratan wahana serupa pada 1999. Para peneliti yang mengusulkan misi Phoenix pada 2002 melihat wahana yang tak terpakai itu sebagai suatu kesempatan ilmiah. Sebelumnya, di tahun yang sama, wahana Mars Odyssey menemukan sejumlah besar es air yang tersimpan dibawah permukaan pada darah lintang tinggi di Mars. NASA kemudian memilih proposal Phoenix diantara 24 proposal lain sebagai misi lanjutan ke Mars.</p>
<p>Phoenix juga akan mempelajari aspek lainnya dari tanah dan atmosfer Mars menggunakan kemampuan peralatan yang belum pernah digunakan sebelumnya, termasuk seperangkat stasiun cuaca yang dibuat di Canada. (<em>mars.jpl.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/05/26/phoenix-mendarat-di-permukaan-mars/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Salju&#8221; Besi dan Medan Magnet Merkurius</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/05/10/salju-besi-dan-medan-magnet-merkurius/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/05/10/salju-besi-dan-medan-magnet-merkurius/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:24:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mercury]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa jauh di bawah permukaan planet Merkurius, &#8220;salju&#8221; besi membentuk dan kemudian jatuh ke pusat planet tersebut, mirip seperti hujan salju yang terbentuk di atmosfer Bumi dan jatuh ke tanah. Pergerakan salju besi ini bertanggung jawab terhadap medan magnet misterius di Merkurius, demikian seperti dijelaskan para peneliti dari University of Illinoiss [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa jauh di bawah permukaan planet Merkurius, &#8220;salju&#8221; besi membentuk dan kemudian jatuh ke pusat planet tersebut, mirip seperti hujan salju yang terbentuk di atmosfer Bumi dan jatuh ke tanah.</p>
<p>Pergerakan salju besi ini bertanggung jawab terhadap medan magnet misterius di Merkurius, demikian seperti dijelaskan para peneliti dari <em>University of Illinoiss</em> dan <em>Case Western Reserve University</em>. Dalam paper yang diterbitkan April lalu di jurnal <em>Geophysical Research Letters</em>, para ilmuwan menjelaskan hasil pengukuran laboratorium dan permodelan yang meniru kondisi yang diyakini berlangsung pada inti Merkurius.<span id="more-197"></span></p>
<p>&#8220;Inti Merkurius yang bersalju membuka skenario baru dimana peristiwa konveksi dapat memicu dan menghasilkan medan magnet global,&#8221; demikian dijelaskan geolog dari <em>University of Illinoiss</em>, Prof. Jie (jackie) Li. &#8220;Penemuan kami memiliki implikasi langsung pada pemahaman terhadap sifat dan evolusi inti Merkurius dan hal serupa pada planet dan bulan lainnya.&#8221;</p>
<p>Merkurius, planet terdalam di tata surya, adalah satu-satunya planet terestrial selain Bumi yang memiliki medan magnet global. Ditemukan pada 1970 oleh wahana NASA, Mariner 10, medan magnet global Merkurius 100 kali lebih lemah daripada Bumi. Sebagian besar permodelan yang ada masih belum dapat menjelaskan medan magnet selemah itu.</p>
<p>Tersusun sebagian besarnya oleh besi, inti Merkurius juga diduga mengandung sulfur (belerang), yang memiliki titik leleh lebih rendah dari besi dan memiliki peranan penting dalam membentuk medan magnet planet tersebut.</p>
<p>&#8220;Pengukuran terakhir oleh radar di Bumi terhadap gerak rotasi Merkurius mengungkap adanya sedikit goncangan pada gerak planet tersebut yang menunjukkan bahwa sebagian inti planet berada dalam bentuk cair,&#8221; jelas Bin Chen, mahasiswa pascasarjana <em>University of Illinoiss</em>, penulis utama paper tersebut. &#8220;Namun karena ketiadaan data seismologis dari planet tersebut, kami hanya mengetahui sedikit mengenai permukaannya.&#8221;</p>
<p>Untuk lebih memahami sifat-sifat fisik inti Merkurius, para peneliti memanfaatkan perangkat multi-landasan untuk mempelajari perilaku lelehan dari campuran besi-sulfur pada tekanan dan suhu tinggi.</p>
<p>Pada setiap eksperimen, sampel besi-sulfur dipadatkan pada tekanan tertentu dan dipanaskan pada suhu tertentu pula. Sampel tersebut kemudian didinginkan, dibagi menjadi dua, dan dianalisis masing-masing dengan pindaian (<em>scanning</em>) mikroskop elektron dan perangkat <em>electron probe microanalyzer</em>. </p>
<p>&#8220;Pendinginan yang sangat cepat mengawetkan tekstur sampel, yang mengungkap pemisahan antara fase padat dan cair serta kandungan sulfur pada tiap fase,&#8221; jelas Chen. &#8220;Berdasarkan hasil eksperimen ini, kita dapat menyimpulkan apa yang terjadi di inti Merkurius.&#8221;</p>
<p>Inti Merkurius nampaknya mencurahkan hujan salju besi pada dua zona yang terpisah, demikian dilaporkan para peneliti. Ini adalah kondisi yang unik diantara planet maupun bulan terestrial di tata surya. </p>
<p>&#8220;Penemuan kami menyediakan konteks baru terhadap bagaimana data observasi dari wahana MESSENGER milik NASA akan diposisikan di masa depan,&#8221; terang Li. &#8220;Sekarang kami dapat mengaitkan kondisi fisik planet terdalam (tata surya) kita dengan formasi dan evolusi planet-planet terestrial pada umumnya.&#8221; (<em>www.news.uiuc.edu</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/05/10/salju-besi-dan-medan-magnet-merkurius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lautan di Bawah Permukaan Titan</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2008/03/27/lautan-di-bawah-permukaan-titan/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2008/03/27/lautan-di-bawah-permukaan-titan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 15:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[Saturn]]></category>
		<category><![CDATA[solar system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/2008/03/27/lautan-di-bawah-permukaan-titan/</guid>
		<description><![CDATA[Wahana Cassini yang dioperasikan NASA telah menemukan bukti yang mengarah pada eksistensi lautan yang terdiri dari air dan amonia dibawah permukaan bulan Saturnus, Titan. Penemuan yang dicapai melalui pengukuran radar atas rotasi Titan ini telah dipublikasikan melalui jurnal ilmiah Nature pada 21 Maret lalu. Menurut Ralph Lorentz, ilmuwan radar Cassini yang juga merupakan penulis utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahana Cassini yang dioperasikan NASA telah menemukan bukti yang mengarah pada eksistensi lautan yang terdiri dari air dan amonia dibawah permukaan bulan Saturnus, Titan. Penemuan yang dicapai melalui pengukuran radar atas rotasi Titan ini telah dipublikasikan melalui jurnal ilmiah Nature pada 21 Maret lalu.</p>
<p>Menurut Ralph Lorentz, ilmuwan radar Cassini yang juga merupakan penulis utama paper tersebut, Titan memiliki permukaan yang paling bervariasi, aktif, dan mirip Bumi dibanding objek lain di tata surya. Permukaan Titan didominasi oleh bukit pasir organik, danau, kanal serta pegunungan.<span id="more-188"></span></p>
<p>Para ilmuwan dan teknisi radar Cassini telah mengumpulkan data citra dari 19 perlintasan Cassini dengan Titan antara Oktober 2005 hingga Mei 2007. Radar Cassini mampu menembus atmosfer Titan yang terdiri atas awan tebal yang kaya akan metana tersebut dan menyingkap fitur-fitur permukaan yang belum pernah terlihat sebelumnya beserta posisinya secara akurat. </p>
<p>&#8220;Kami meyakini bahwa sekitar 100 kilometer (62 mil) dibawah permukaan yang didominasi es dan elemen organik itu tersembunyi lautan yang terdiri dari air cair bercampur amonia,&#8221; demikian ditegaskan Bryan Stiles dari <i>Jet Propulsion Laboratory</i> NASA di Pasadena, California. Stiles adalah salah satu penulis paper tersebut.</p>
<p>Menggunakan data dari observasi radar tahap awal, para ilmuwan menentukan 50 lokasi unik pada permukaan Titan, dan kemudian mencari data dari lokasi yang sama yang diamati oleh Cassini pada perlintasan terakhirnya dengan Titan. Mereka menemukan beberapa fitur pada permukaan yang telah bergeser dari posisinya hingga sejauh 19 mil. Penjelasan yang paling mungkin dari pergeseran ini adalah karena permukaan yang terdiri dari es tersebut mengapung diatas  lautan sehingga memudahkannya untuk bergerak.</p>
<p>Mempelajari Titan adalah salah satu sasaran utama misi Cassini-Huygens, karena bulan Saturnus tersebut mungkin menyimpan senyawa-senyawa kimia yang memicu berkembangnya kehidupan di Bumi. (<em>nasa.gov/cassini</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2008/03/27/lautan-di-bawah-permukaan-titan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

