<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Astronomi &#187; Sun</title>
	<atom:link href="http://ias.dhani.org/tag/sun/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ias.dhani.org</link>
	<description>Berita dan Peristiwa Seputar Antariksa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 10:24:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Cincin, 26 Januari 2009</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2009/01/14/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2009/01/14/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 15:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[eclipse]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Gerhana matahari pertama pada 2009 akan berlangsung pada 26 Januari 2009 mendatang. Gerhana matahari cincin akan melintasi Sepertiga benua Afrika bagian selatan, terus ke Madagaskar, Australia (kecuali Tasmania), India bagian tenggara, Asia tenggara, dan Indonesia. Fase gerhana berawal saat bayangan antumbral Bulan mulai menyapu samudera Atlantik Selatan pada pukul 06:06 UT (13:06 WIB) pada koridor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gerhana matahari pertama pada 2009 akan berlangsung pada 26 Januari 2009 mendatang. Gerhana matahari cincin akan melintasi Sepertiga benua Afrika bagian selatan, terus ke Madagaskar, Australia (kecuali Tasmania), India bagian tenggara, Asia tenggara, dan Indonesia.</p>
<p>Fase gerhana berawal saat bayangan antumbral Bulan mulai menyapu samudera Atlantik Selatan pada pukul 06:06 UT (13:06 WIB) pada koridor selebar 363 kilometer. Bergerak ke arah timur, bayangan Bulan selanjutnya akan melewati benua Afrika bagian Selatan hingga samudera Hindia Selatan. Puncak gerhana terjadi pada pukul 07:58:39 UT (14:58:39 WIB) dimana gerhana mencapai magnitud 0.9282. Fase ini berlangsung selama 7 menit 54 detik meliputi daerah selebar 280 km saat matahari mencapai ketinggian 73° diatas horizon. </p>
<p>Selepas itu, gerhana akan bergerak ke arah timur laut, melewati kepulauan Cocos (<em>Cocos Islands</em>) menuju Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian Barat, dan selanjutnya melintasi Kalimantan bagian Tengah dan sebagian kecil Sulawesi bagian barat laut sebelum berakhir di sekitar pulau Mindanao, Filipina pada 09:52 UT (16:52 WIB).</p>
<p>Selama 3 jam 45 menit fase gerhana, antumbra Bulan melintas sejauh sekitar 14.500 km, meliputi 0,9% permukaan planet Bumi. Tabel Urut-urutan fase gerhana untuk sejumlah kota yang dilewati gerhana dapat dilihat <a href=http://eclipse.gsfc.nasa.gov/OH/OHtables/OH2009-Tab02.pdf>di sini</a>. Semua waktu dalam UT. Tambahkan 7 jam untuk mengkonversi ke WIB. (<em>eclipse.gsfc.nasa.gov</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2009/01/14/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hinode Ungkap Asal-Usul Angin Matahari</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/12/17/hinode-ungkap-asal-usul-angin-matahari/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/12/17/hinode-ungkap-asal-usul-angin-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 16:23:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/2007/12/17/hinode-ungkap-asal-usul-angin-matahari/</guid>
		<description><![CDATA[Data dari satelit milik Jepang, Hinode, menunjukkan bahwa gelombang magnetik memainkan peranan penting dalam mengarahkan angin matahari di ruang angkasa. Angin matahari (solar wind) adalah aliran gas bermuatan listrik yang dipancarkan matahari ke segala arah dengan kecepatan mencapai hampir sejuta mil per jam. Pemahaman yang lebih baik mengenai angin matahari dapat membantu dalam membuat prediksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Data dari satelit milik Jepang, Hinode, menunjukkan bahwa gelombang magnetik memainkan peranan penting dalam mengarahkan angin matahari di ruang angkasa. Angin matahari (<i>solar wind</i>) adalah aliran gas bermuatan listrik yang dipancarkan matahari ke segala arah dengan kecepatan mencapai hampir sejuta mil per jam. Pemahaman yang lebih baik mengenai angin matahari dapat membantu dalam membuat prediksi yang lebih akurat terhadap radiasi yang bersifat merusak sebelum radiasi itu mencapai orbit satelit. </p>
<p>Bagaimana angin matahari terbentuk dan kemudian menguat telah menjadi topik perdebatan selama beberapa dekade. <span id="more-161"></span>Apa yang dikenal sebagai gelombang Alfven (<i>Alfven waves</i>) pada prinsipnya dapat memindahkan energi dari permukaan Matahari melalui atmosfer matahari (dikenal sebagai korona), menjadi angin matahari. Karena itu, gelombang Alfven yang bersifat magnetik yang kuat pada gas bermuatan listrik di Matahari telah lama menjadi kandidat sebagai kekuatan yang memicu pembentukan angin matahari. </p>
<p>Pada atmosfer matahari, gelombang Alfven terbentuk saat pergerakan konvektif dari gelombang bintang menekan medan magnet di sekelilingnya, atau saat proses dinamik yang menghasilkan aliran listrik yang membuat medan magnet berubah bentuk atau mengalami rekoneksi.</p>
<p>&#8220;Hingga kini, gelombang Alfven masih mustahil untuk bisa diamati, dikarenakan oleh keterbatasan resolusi dari instrumen yang tersedia,&#8221; jelas Alexei Pevtsov, saintis program Hinode dari markas besar NASA di Washington. &#8220;Dengan bantuan Hinode, kami sekarang dapat melihat bukti langsung dari keberadaan gelombang Alfven, yang akan membantu mengungkap misteri mengenai bagaimana angin matahari terbentuk.&#8221;</p>
<p><center><img src=http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2007/12/sun_hinode.jpg><br />
<i>Pancaran sinar-X yang melontarkan plasma dari lubang korona di kutub utara matahari. Gambar ini diambil pada 10 Januari 2007 oleh teleskop sinar-X Hinode. (Gambar: SAO/NASA/JAXA/NAOJ)</i></center></p>
<p>Dengan memanfaatkan teleskop sinar-X beresolusi tinggi dari Hinode, suatu tim yang dipimpin oleh Jonathan Cirtain, ahli fisika matahari dari <i>Marshall Space Flight Center</i>, NASA, di Huntsville, Alabama, telah berhasil meneropong jauh kedalam korona di kutub matahari, dan mengamati sejumlah amat besar pancaran sinar-X. Pancaran tersebut adalah pancaran dari plasma panas yang bergerak dengan sangat cepat. Penelitian terdahulu hanya berhasil mendeteksi sejumlah kecil pancaran tiap harinya.</p>
<p>Dengan sensitivitas yang lebih tinggi dari Hinode, tim Cirtain mengamati rata-rata 240 pancaran perhari. Mereka menyimpulkan bahwa rekoneksi magnetis, suatu proses dimana dua medan magnet dengan muatan listrik yang berlawanan bertabrakan dan melepaskan energi, sangat sering terjadi pada korona rendah Matahari. Interaksi ini membentuk gelombang Alfven dan ledakan plasma berenergi tinggi dalam bentuk pancaran sinar-X.</p>
<p>&#8220;Observasi ini menunjukkan kaitan yang jelas antara rekoneksi magnetik dan pembentukan gelombang Alfven dalam pancaran sinar-X,&#8221; jelas Cirtain. &#8220;Banyaknya jumlah semburan berpasangan dengan tingginya kecepatan dari plasma yang mengalir keluar, memperkuat keyakinan terhadap gagasan bahwa pancaran sinar-X adalah kekuatan yang membentuk terciptanya angin matahari yang bergerak cepat.&#8221;</p>
<p>Tim riset lain yang dipimpin oleh Bart De Pontieu, ahli fisika matahari dari Laboratorium Matahari dan Astrofisika Lockheed Martin di Pallo Alto, California, berfokus pada kromosfer Matahari, daerah yang terbentang diantara permukaan matahari dan korona. Memanfaatkan citra beresolusi teramat-sangat tinggi dari perangkat <i>Solar Optical Telescope</i> pada Hinode, De pontieu beserta timnya menemukan bahwa gelombang Alfven tersebar pada kromosfer. Saat gelombang tersebut mengalir kearah korona, gelombang tersebut menjadi cukup kuat untuk memicu angin matahari.</p>
<p>&#8220;Kami menemukan bahwa sebagian besar dari gelombang Alfven memiliki periode beberapa menit, jauh lebih lama daripada banyak model teoretis yang telah dikembangkan sebelumnya,&#8221; jelas De Pontieu. Perbandingan dengan simulasi komputer yang lebih canggih dari <i>University of Oslo</i> di Norwegia, mengindikasikan bahwa rekoneksi bukanlah satu-satunya sumber gelombang Alfven. De Pontieu melanjutkan, &#8220;Simulasi itu menyiratkan bahwa banyak diantara gelombang yang terjadi saat medan magnet matahari terdesak oleh gerakan konvektif dan gelombang suara di atmosfer rendah.&#8221; </p>
<p>Gelombang Alfven pertama kali diteliti ilmuwan Swedia bernama Hannes Alfven yang membuatnya meraih Nobel Fisika pada 1970. Alfven meninggal pada 1995, dan namanya diabadikan pada gelombang temuannya tersebut. (<i>www.nasa.gov/mission_pages/solar-b/</i>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/12/17/hinode-ungkap-asal-usul-angin-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matahari dalam Tiga Dimensi</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/04/24/matahari-dalam-tiga-dimensi/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/04/24/matahari-dalam-tiga-dimensi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 14:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Badan Ruang Angkasa AS, NASA, kemarin (23/4) mempublikasikan citra tiga dimensi pertama dari wahana Solar Terresterial Relations Observatory (STEREO). Citra tersebut juga merupakan citra pertama yang menggambarkan struktur atmosfir matahari dalam tiga dimensi. Wahana STEREO adalah misi ketiga dari Program Solar Terresterial Probes yang dijalankan oleh NASA. Wahana ini terdiri dari dua buah satelit yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Badan Ruang Angkasa AS, NASA, kemarin (23/4) mempublikasikan citra tiga dimensi pertama dari wahana <em>Solar Terresterial Relations Observatory</em> (STEREO). Citra tersebut juga merupakan citra pertama yang menggambarkan struktur atmosfir matahari dalam tiga dimensi. </p>
<p>Wahana STEREO adalah misi ketiga dari Program <i>Solar Terresterial Probes</i> yang dijalankan oleh NASA. Wahana ini terdiri dari dua buah satelit yang hampir identik yang diletakkan di dua posisi yang berbeda. Satu satelit berada di &#8220;depan&#8221; orbit Bumi, sementara kembarannya berada di &#8220;belakang&#8221; orbit Bumi. Posisi kedua wahana tersebut menyediakan paralaks yg memadai untuk menciptakan gambar-gambar tiga dimensi. </p>
<p>Misi STEREO diluncurkan pada bulan Oktober 2006 dan direncanakan akan beroperasi selama dua tahun. Misi utama dari wahana ini adalah untuk mempelajari aktivitas Matahari, khususnya <i>Coronal Mass Ejection</i> &#8212; lontaran materi dan energi dari permukaan Matahari yang berpotensi mengganggu operasional satelit dan pembangkit listrik di Bumi. (<i>www.nasa.gov</i>)</p>
<p><center><img src='http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2007/04/174859main_stereo_2d.jpg' alt='174859main_stereo_2d.jpg' /></p>
<p><img src='http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2007/04/174860main_stereo_3d.jpg' alt='174860main_stereo_3d.jpg' /></p>
<p><i>Citra matahari dalam dua dimensi (atas) dan tiga dimensi (bawah) oleh wahana STEREO. Gunakan kacamata 3D untuk melihat gambar dalam format tiga dimensi. (Gambar: NASA)</i></center></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/04/24/matahari-dalam-tiga-dimensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Hinode Ungkap Aktivitas Permukaan Matahari</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2007/03/27/citra-hinode-ungkap-aktivitas-di-permukaan-matahari/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2007/03/27/citra-hinode-ungkap-aktivitas-di-permukaan-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2007 16:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Rabu 21 Maret lalu, NASA merilis citra yang belum pernah terlihat sebelumnya yang menunjukkan medan magnetik matahari yang lebih bergejolak dan dinamis daripada yang selama ini diketahui. Citra ini diambil oleh wahana internasional Hinode. &#8220;Untuk pertama kalinya kita kini dapat menyaksikan semburan gas panas yang muncul dan menghilang di di atmosfir matahari yang termagnetisasi,&#8221; demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu 21 Maret lalu, NASA merilis citra yang belum pernah terlihat sebelumnya yang menunjukkan medan magnetik matahari yang lebih bergejolak dan dinamis daripada yang selama ini diketahui. Citra ini diambil oleh wahana internasional Hinode.</p>
<p>&#8220;Untuk pertama kalinya kita kini dapat menyaksikan semburan gas panas yang muncul dan menghilang di di atmosfir matahari yang termagnetisasi,&#8221; demikian menurut Dick Fisher, direktur Divisi Heliofisika NASA di Washington. &#8220;Citra-citra ini akan membuka era baru dari studi pada proses-proses di matahari yang berpengaruh pada Bumi, astronaut, satelit yang mengorbit, dan tata surya.&#8221;</p>
<p>Ketiga instrumen utama Hinode, Teleskop Solar Optikal, Teleskop sinar-X, dan perangkat yang disebut <i>Extreme Ultraviolet Imaging Spectrometer</i> mengamati lapisan yang berbeda dari matahari. Penelitian difokuskan pada atmosfir matahari pada permukaan matahari yang terlihat, yang dikenal sebagai fotosfer, hingga korona, atmosfer terluar dari matahari.</p>
<p><center><img src='http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2007/03/172020main_nasa_20nov_330.jpg' alt='172020main_nasa_20nov_330.jpg' /></p>
<p><i>Salah satu citra yang diambil oleh perangkat teleskop optik Hinode pada 20 November 2006, menunjukkan struktur medan magnetik yang terlepas secara vertikal dari sebuah bintik matahari (Gambar: Hinode JAXA/NASA)</i></center></p>
<p>&#8220;Dengan menggabungkan hasil pengukuran dari ketiga instrumen itu, Hinode menunjukkan bagaimana perubahan pada struktur medan magnet dan pelepasan energi magnetik pada atmosfer rendah menyebar lewat korona dan selanjutnya ke ruang antar planet untuk menciptakan kondisi cuaca di antariksa (<i>space weather</i>),&#8221; demikian dijelaskan oleh John Davis, saintis proyek dari <i>Marshall Space Flight Center</i> di Huntsville, Alabama.</p>
<p>Kondisi ini melibatkan produksi partikel berenergi dan emisi radiasi elekromagnetik. Ledakan energi tersebut dapat mengganggu sistem komunikasi jarak jauh dan sistem navigasi global di Bumi.</p>
<p>&#8220;Citra dari Hinode mengungkap bukti tak terbantahkan dari keberadaan proses yang dipicu oleh turbulensi yang membawa medan magnetik, dalam semua skala, ke permukaan matahari, menghasilkan kromosfer yang sangat dinamik atau selubung gas di sekeliling matahari,&#8221; demikian menurut Alan Title dari Lockhed Martin, Palo Alto, California, dan profesor fisika dari <i>Stanford University</i>, Stanford, California.</p>
<p>Wahana Hinode, dari bahasa Jepang &#8220;matahari terbit&#8221;, diluncurkan pada 23 September 2006 dengan misi untuk mempelajari medan magnetik matahari. Hinode merupakan misi kolaboratif yang dipimpin oleh Lembaga Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA), dan melibatkan diantaranya Lembaga Ruang Angkasa Eropa (ESA), dan Lembaga Riset Astronomi Fisika Partikel Inggris. Sementara itu, Observatorium Nasional Jepang di Tokyo mengembangkan Teleskop Optik Matahari, serta bekerjasama dengan Observatorium Astrofisika Smithsonian di Massachussets untuk mengembangkan Teleskop Sinar-X. (<i>www.nasa.gov/hinode</i>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2007/03/27/citra-hinode-ungkap-aktivitas-di-permukaan-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Pertama dari Hinode</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/12/26/citra-pertama-dari-hinode/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/12/26/citra-pertama-dari-hinode/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 16:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[probe]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Wahana penelitian matahari yang dioperasikan lembaga ruang angkasa Jepang, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Hinode (&#8220;matahari terbit&#8221;), telah mengirimkan citra pertamanya yang menunjukkan detail dari daerah aktif pada korona matahari. Demikian dilansir oleh NASA pada 23 Desember lalu. Teleskop sinar-X pada Hinode telah menangkap citra atmosfir terluar matahari yang dikenal sebagai korona. Korona adalah tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahana penelitian matahari yang dioperasikan lembaga ruang angkasa Jepang, <em>Japan Aerospace Exploration Agency</em> (JAXA), Hinode (&#8220;matahari terbit&#8221;), telah mengirimkan citra pertamanya yang menunjukkan detail dari daerah aktif pada korona matahari. Demikian dilansir oleh NASA pada 23 Desember lalu.</p>
<p>Teleskop sinar-X pada Hinode telah menangkap citra atmosfir terluar matahari yang dikenal sebagai korona. Korona adalah tempat dimana aktifitas eksplosif di permukaan matahari terjadi&#8211;salah satunya adalah apa yang disebut sebagai <em>coronal mass ejections</em>. Diperkuat oleh medan magnet matahari, aktivitas ini menghasilkan efek yang berpengaruh di antariksa antara matahari dan Bumi.</p>
<p>Citra korona tersebut telah menunjukkan untuk pertama kalinya titik pancaran sinar-X yang cemerlang yang terdiri dari puntiran-puntiran (<em>loops</em>) magnetik. Citra tersebut juga menyingkap detail struktur di daerah kutub matahari, bersama dengan puntiran daerah-daerah aktif. Sebelumnya korona hanya terlihat pada saat gerhana matahari dalam warna putih cemerlang.</p>
<div align="center"><img id="image75" alt="161863main_hinode_sun_516.jpg" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2006/12/161863main_hinode_sun_516.jpg" /></div>
<div align="center"><em>Citra yang diambil oleh teleskop sinar-X Hinode<br />
(gambar: Hinode JAXA/NASA/PPARC)</em></div>
<p>Sementara itu, perangkat <em>Solar Optical Telescope</em> mengirimkan citra yang menunjukkan permukaan matahari yang telah diperbesar. Citra tersebut mengungkap detail baru dari apa yang disebut konveksi matahari, suatu proses yang mengendalikan semburan dan jatuhan gas pada daerah atmosfir terendah matahari, fotosfir. Selain itu, perangkat <em>Solar Optical Telescope</em> juga merupakan instrumen berbasis antariksa pertama yang mampu mengukur kekuatan dan arah medan magnet matahari.</p>
<p>Dengan menggabungkan observasi dari perangkat optik dan teleskop sinar-X Hinode, para ilmuwan dapat mempelajari bagaimana perubahan pada medan magnet matahari memicu lepasnya materi pada korona.</p>
<p>Misi Hinode, yang sebelum peluncurannya dikenal sebagai &#8220;Solar-B&#8221;, dioperasikan oleh JAXA sebagai misi kolaboratif yang melibatkan badan ruang angkasa Jepang, AS, Inggris dan Eropa. Wahana ini dikendalikan dari fasilitas milik JAXA di Sagamihara, Jepang. (<em>www.nasa.gov/solar-b</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/12/26/citra-pertama-dari-hinode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konjugasi Empat Planet</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/11/13/konjugasi-empat-planet/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/11/13/konjugasi-empat-planet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 05:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Empat planet: Jupiter, Venus, Mars, dan Merkurius berkumpul di sekeliling Matahari akhir minggu lalu. Peristiwa ini tidak terlihat oleh mata manusia, karena tertutupi oleh terangnya cahaya matahari, akan tetapi dapat dideteksi oleh wahana antariksa SOHO milik NASA yang saat ini tengah mengorbit matahari. Perangkat yang disebut LASCO (Large Angle Spectrometric Coronagraph) yang dibawa oleh wahana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Empat planet: Jupiter, Venus, Mars, dan Merkurius berkumpul di sekeliling Matahari akhir minggu lalu. Peristiwa ini tidak terlihat oleh mata manusia, karena tertutupi oleh terangnya cahaya matahari, akan tetapi dapat dideteksi oleh wahana antariksa <a href="http://sohowww.nascom.nasa.gov/">SOHO</a> milik NASA yang saat ini tengah mengorbit matahari.</p>
<p>Perangkat yang disebut <a href="http://lasco-www.nrl.navy.mil/lasco.html">LASCO</a> (<em>Large Angle Spectrometric Coronagraph</em>) yang dibawa oleh wahana tersebut mampu memblok cahaya matahari dan menyingkap posisi keempat planet tersebut. Berikut adalah citra LASCO yang diterima 11 November lalu sebagaimana yang dipublikasikan oleh <em>spaceweather.com</em> kemarin (12/11).</p>
<div style="text-align: center"><img id="image58" alt="c3_big_lab.gif" src="http://ias.dhani.org/wp-content/uploads/2006/11/c3_big_lab.gif" /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/11/13/konjugasi-empat-planet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Sebagian</title>
		<link>http://ias.dhani.org/2006/09/18/gerhana-matahari-sebagian/</link>
		<comments>http://ias.dhani.org/2006/09/18/gerhana-matahari-sebagian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Sep 2006 15:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[eclipse]]></category>
		<category><![CDATA[Sun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ias.dhani.org/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa Gerhana Matahari sebagian akan berlangsung pada 22 September 2006 mendatang. Gerhana dapat disaksikan di wilayah Amerika Selatan bagian tengah hingga timur dan bagian selatan benua Afrika. Sayangnya, Gerhana ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Gerhana akan berawal di Guyana pada pukul 09:48 UT (16:48 WIB). Puncak Gerhana terjadi pada pukul 11:40:11 UT (18:40:11 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa Gerhana Matahari sebagian akan berlangsung pada 22 September 2006 mendatang. Gerhana dapat disaksikan di wilayah Amerika Selatan bagian tengah hingga timur dan bagian selatan benua Afrika. Sayangnya, Gerhana ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia.</p>
<p>Gerhana akan berawal di Guyana pada pukul 09:48 UT (16:48 WIB). Puncak Gerhana terjadi pada pukul 11:40:11 UT (18:40:11 WIB) diatas Samudera Atlantik dan berakhir pada pukul 13:31 UT (20:31 WIB) diatas pulau Kergeulen, Afrika, menjelang matahari terbenam disana. Puncak Gerhana berlangsung selama 7 menit 9 detik. Sepanjang terjadinya gerhana, bayangan Bulan akan menyapu wilayah sepanjang 13.800 KM dan menutupi 0.83% dari area permukaan Bumi.</p>
<p>Gerhana ini digolongkan sebagai gerhana matahari sebagian atau gerhana matahari cincin karena pada saat puncak gerhana ukuran Bulan masih terlalu kecil untuk bisa sepenuhnya menutupi permukaan Matahari. Hal ini disebabkan karena Bulan sedang berada pada jarak yang sedikit lebih jauh dari rata-rata jaraknya dengan Bumi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ias.dhani.org/2006/09/18/gerhana-matahari-sebagian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

